Love and Misadventures (Lang Leav, 2013)

Identitas Buku

Title: Cinta dan Kesialan-kesialan (original title: Love and Misadventures)
Author: Lang Leav
Published: April 26, 2013 (terjemahan: April 2016)
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Paperback
Genre: Poetry
Language: Bahasa Indonesia (original language: English – translated by: M. Aan Mansyur)
Pages: 168 pages
ISBN-13: 978-602-032-564-4

Sinopsis Official

Kau ingat lagu yang berkumandang pada malam kita bertemu pertama kali?
Tidak, tapi aku ingat semua lagu yang kudengarkan sejak kau pergi.

Resensi

Poetry is not my favourite genre. Dulu, aku pernah meminjam Melihat Api Bekerja dari iJak, namun toh gagal menikmatinya juga walaupun sudah dibaca pelan-pelan, dibaca beberapa kali. Namun, ketika diminta memilih hadiah giveaway, aku penasaran dengan buku ini. Konon, alasannya hanya sebatas karena kulihat basis penggemar karya Lang Leav ini sudah cukup besar.

Sama seperti novel atau tulisan fiksi lainnya, begitu suatu buku berbahasa asing diterjemahkan, pasti ada perubahan yang terjadi. Kebetulan, aku belum membaca buku ini dalam bahasa aslinya, sehingga belum dapat membandingkan secara komprehensif. Namun, “polesan” Aan terhadap puisi-puisi romansa Leav ini tidak membuat takaran rasa yang tersampaikan ke pembaca jadi hilang. Aroma kehilangan, bercampur prihatin, miris, dan sejumlah kata benda lain yang ada di sekitar itu, masih terasa (update: Kemudian aku sempat mencari versi Inggris dari beberapa puisi. Kurasa, Aan Mansyur did a good job. Nilai puitis yang terasa tidak berkurang drastis).

Di buku ini Leav mengangkat tiga subtema besar, yaitu kesialan, sirkus duka cita, dan cinta. Kesialan mengungkapkan tentang berbagai kisah cinta tak sampai, sirkus duka cita tentang kehilangan, dan cinta tentang ungkapan cinta itu sendiri, yang (tampaknya) didahului oleh berbagai momen kasih tak sampai dan kehilangan. Justru yang menurutku menarik adalah dua bagian yang pertama. Kepahitan disisipkan dengan cerdas tanpa selalu “menye”, tanpa jumlah kata yang terlalu diumbar. Ciri lain dari karya Leav adalah nyaris tak pernah munculnya kata-kata “nyeleneh” yang membuat pembaca harus buru-buru membuka kamus, namun kalimat yang ia susun cukup menancap dalam pada perasaan. Ciri ini sedikit berbeda dengan pola puisi Aan sendiri (mengacu pada Melihat Api Bekerja), yang cenderung menggunakan jumlah kata lebih banyak, dan terkadang cukup mendekati struktur prosa.

Favoritku di buku ini, ada beberapa. Yang pertama, Seseorang yang Tak Kukenal. Ini terfavorit dari semuanya. Setelah membaca puisi yang ini, bookmark-nya kuselipkan saja di situ dan kubiarkan sampai sekarang, buat dibaca dan dibaca lagi. Menurutku, puisi yang satu ini sangat menginspirasi jika kalian ingin memperdalam tema kehilangan. Lainnya, seperti Jalan Keluar, Kupu-kupu Mati, Lagu Sedih (puisi sedih yang potongannya menjadi blurb buku ini), Biarkan Ia Pergi, Malaikat, dan Pasangan Jiwa (puisi romantis yang super!).

Di tahun 2017 ini, beberapa buku Leav akan diterjemahkan ke bahasa Indonesia; juga beberapa buku barunya akan dirilis. Hmm … jadi berpikir ulang. Mungkin … aha, lihat saja nanti! 🙂

Kutipan Menarik

Seseorang yang Tak Kukenal (hlm. 37)

Ada satu cinta yang kukenang
seperti rekah dari bebijian
yang tak pernah kutaburkan.

Bibir yang sungguh ingin kucium
dan teduh sepasang mata
yang tak pernah melihat mataku.

Jari-jari yang melingkari pergelanganku
dan rengkuh dua ruas lengan
yang rasanya seperti rumah.

Mengapa aku bisa merindukan,
seluruh perihal
yang tak pernah kukenal ini.

Miscellaneous and Ratings

  • Love and Misadventures on Goodreads
  • My rating: 3/5 (Goodreads), 6/10 (personal)
  • Aku membacanya dalam bentuk: Fisik
  • How to get this book: Gramedia.com (Rp 32.300, belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get this book: SCOOP (Rp 29.700)
  • How to get this book: Pengenbuku.net (Rp 30.400, belum termasuk ongkos kirim)

Rumah Kertas (Carlos Maria Dominguez, 2002)

Identitas Buku

Title: Rumah Kertas (original title: La casa de papel)
Author: Carlos Maria Dominguez
Published: 2016
Publisher: MarjinKiri
Cover: Paperback
Genre: International Literature
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 76 pages
ISBN-13: 978-979-126-062-6
Awards: Lolita Rubial, Literaturpreis der Jury der jungen Leser for Sonderpreis (2005)

Sinopsis Official

Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!

Resensi

Meskipun tahu diri aku bukanlah pembaca yang baik dan universal (kebanyakan bacaanku sifatnya populer), aku tetap memutuskan ikut di tantangan Read and Review Challenge BBI 2017. Buku pertama di tantangan tersebut, sekaligus buku pertama di tantangan Goodreads Reading Challenge 2017-ku, adalah salah satu karya sastra Amerika Latin/Spanyol pemenang penghargaan (Award Winning Book), yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan tajuk Rumah Kertas.

Aku memulai nasib buku ini dengan kekonyolan. Aku sudah memasukkannya ke daftar Secret Santa Wishlist di tanggal 11 Desember, tapi toh masih kubeli juga dua minggu kemudian. Padahal, sebelumnya mana pernah aku punya buku sampai dua eksemplar? Eh… tapi ingga hari ini (baca: 8 Januari 2017) aku belum menerima paket Secret Santa tersebut, jadi belum tahu apakah buku ini akan terdobel atau tidak nantinya.

Yang seram adalah: Rupanya, kekeliruan konyol ini “punya jalinan darah” dengan isi buku ini!

Penuturan singkat-padat-mencekam buku ini dimulai dengan berita kematian Bluma Lennon, seorang profesor literatur asal Inggris. Ia tewas tertabrak mobil ketika membaca buku puisi karangan Emily Dickinson. Selanjutnya, kita para pembaca dibawa untuk menikmati kisah tentang Carlos Brauer. Brauer adalah seorang bibliofil (penggemar buku) yang mengirimkan sebuah buku misterius berbalut lumuran semen kepada Lennon. Sayangnya, buku baru diterima staf Lennon (kita sebut saja dia “narator”, karena dialah narator di kisah ini) setelah Lennon wafat. Penasaran dengan buku berbahasa Spanyol yang misterius itu, sang narator pun nekat mencari Brauer. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan seorang bibliofil yang punya ruang perpustakaan raksasa berisi delapan belas ribu buku, bernama Delgado. Di sinilah kisah tentang Brauer yang sebenarnya dimulai.

Cerita bermula dari Delgado dengan renyah. Berbagai sikon yang membuat para bibliofil tersenyum-senyum sendiri, dengan satu sumber problem: Menimbun buku (Aha! Aku sendiri punya timbunan yang jumlahnya semakin hari semakin wow). Lama-kelamaan, kerakusan Brauer pun mengalahkan Delgado, sekaligus semakin “memakan tuannya” sendiri. Pembaca tidak lagi dibuat mesem, namun perlahan-lahan menjadi miris, gloomy, dan … aku setuju dengan istilah “menakutkan”. Sampai suatu ketika, terjadi musibah yang membuat Brauer menjadi “gila”. Apa yang ia lakukan untuk menyembuhkan lukanya?

Dengan cepat, Dominguez membeberkan bentuk kegilaan Brauer yang begitu menyayat hati. Bab tiga akhir berjalan dengan plot begitu santai, tidak cepat, namun menghanyutkan. Tanpa sadar, pembaca akan memasuki bab empat. Di kira-kira lima belas halaman terakhir, Dominguez membeberkan kengerian yang diakibatkan oleh sebuah keserakahan dengan cepat dan lugas, sekaligus mengungkap misteri perasaan yang sebetulnya disembunyikan Brauer kepada Lennon. Sampai halaman terakhir pun, pembaca seolah sengaja dipermainkan, dibuat tak rela bahwa buku ini tiba-tiba sudah selesai!

Terjemahan Agustinus atas tulisan Dominguez ini pun menarik. Berbagai diksi langka ia pilih untuk rangkaian kalimat deskriptif, hingga memaksa pembaca untuk melirik kamus beberapa kali. Kalimat Dominguez direpresentasikan dalam larik-larik panjang, sarat koma anak kalimat sana-sini, dan berbuntut panjang namun menghanyutkan pembaca tanpa sadar, juga menjadi ciri penuturan dalam sebagian besar bagian di buku tipis ini, sehingga para pembaca wajib berkonsentrasi saat membaca. Satu lagi, sebaiknya jangan coba-coba skimming – karena sensasi mencekam waktu membaca buku ini bisa hilang.

Seperti selentingan yang pernah disebut-sebut rekan Blog Buku Indonesia, bibliofil wajib meluangkan waktu dalam hidupnya untuk membaca buku ini. Betapa buku ini mengajarkan dampak kelam dari aktivitas menimbun buku, betapa keserakahan bisa berdampak begitu mengerikannya, dan betapa keterlambatan itu bisa mencetuskan rasa sesal yang sangat menyiksa.

Kurasa, buku ini memang awal yang tepat dalam misiku untuk menurunkan tinggi timbunan buku di sepanjang tahun 2017. Dan sekarang… aku cuma bisa berharap kekonyolan “buku ganda”-ku tadi itu tidak berkembang menjadi sesuatu yang mengerikan nanti.

Kutipan Menarik

  • Buku-buku merangsek ke sekujur rumah, diam-diam, tanpa rasa bersalah. (hlm. 9)
  • Tapi sepanjang waktu bekerja, yang saya rindukan cuma bisa kembali ke sini. (hlm. 27)
  • Saya mengeluhkan waktu buat membaca yang terlalu sedikit. (hlm. 33)

Miscellaneous and Ratings

  • Rumah Kertas on Goodreads
  • My rating: 4/5 (Goodreads), 8/10 (personal)
  • Aku membacanya dalam bentuk: Fisik
  • How to get this book: TB Gramedia (Rp 34.000)
  • How to get this book: Gramedia.com (Rp 28.900, belum termasuk ongkos kirim)

Melankolia Ninna (Robin Wijaya, 2016)

Identitas Buku

Title: Melankolia Ninna
Author: Robin Wijaya
Published: December 12, 2016
Publisher: Falcon Publishing
Cover: Paperback
Dimension: 13 cm x 20 cm
Genre: Romance
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 204 pages
ISBN-13: 978-602-605-141-7

Sinopsis Official

Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Dari gerbang, ambillah jalan ke kanan, dan temukan satu-satunya rumah yang berpagar. Kau tidak akan salah. Pemiliknya adalah sepasang suami istri. Sang suami pandai merupa kayu-kayu menjadi perabot yang indah, sedangkan sang istri menata rumah dengan nuansa vintage yang meneduhkan. Bersama-sama, keduanya menghidupkan ruang impian mereka: sebuah kamar bayi yang dipenuhi warna.

Namun, duka menghampiri. Sang istri kehilangan rahimnya sebelum sempat mengandung impian mereka. Menyisakan luka yang mewujud sebuah melankolia. Gamal dan Ninna, menatap pupus harapan, seperti hidup yang hanya menyisakan warna kelabu saja.

Resensi

Ceritanya, di awal Desember 2016, Falcon Publishing menyelenggarakan lomba Tantangan Nulis via editornya (Jia Effendie). Hadiahnya adalah buku-buku serial Blue Valley, yang totalnya berisi lima buku (buku ini adalah salah satunya). Kebetulan, buku inilah yang dihadiahkan kepadaku, setelah tulisan fiksiku tentang tukang fotokopi ternyata termasuk salah satu dari enam tulisan bertema “kehilangan” yang terpilih.

Meskipun aku bukanlah penggemar novel-novel roman maupun tulisan roman murni, menurutku premis Blue Valley sebagai sebuah serial dan Melankolia Ninna khususnya, cukup menarik. Tema kehilangan memang menjadi salah satu komponen dalam tulisan-tulisan roman yang mampu memainkan emosi pembaca dengan caranya tersendiri, dan sering menjadi penguat konflik roman yang memberi nilai jual tersendiri. Cara mengatasi kehilangan pun menjadi titik sumber rasa penasaran para pembaca, sehubungan dengan itu. Terkhusus Melankolia Ninna, premis ketidakmampuan Ninna untuk memiliki keturunan ini cukup “nendang”.

Penuturan sang penulis, Robin Wijaya, cukup nyaman diikuti. Bahasa yang digunakannya sederhana dan mudah dipahami, tanpa terlalu banyak bunga yang membingungkan. Tidak ribet, tidak menjerumuskan, tidak terlalu dalam – adalah ciri bahasa yang ditonjolkan di kisah ini. Bagian paling menarik adalah ketika dengan lugasnya, Robin mengungkapkan tentang cara Gamal melamar Ninna yang begitu unik dan “patriotik”. Inilah bagian favoritku dari buku ini, karena cukup manis, sekaligus sangat menempel di memori pembaca.

Usaha penulis untuk membedakan cara pikir Gamal dan Ninna juga tergambar cukup baik lewat pembedaan texting metode bicara (“gue” di Gamal dan “aku” di Ninna, faktual di Gamal dan perasaan di Ninna). Hanya saja, menurutku metode pembukaan di bagian karakter masing-masing masih monoton. Semua suara, baik Gamal maupun Ninna, selalu “bermula dengan kata bijak”, hingga lama-kelamaan aku pun semakin bingung ini siapa yang sedang bicara, kalau tidak mengacu pada “aku” atau “gue” itu tadi. Lama-kelamaan, mereka terlihat semakin “satu suara”, dan aku sebagai pembaca tidak lagi peduli ini suara siapa. Namun, karena Robin menjelaskan dengan gamblang siapa yang sedang bicara apa dalam teksnya, menurutku ini bukan suatu nilai minus yang serius.

Untuk kelemahan, memang masih ada beberapa. Misalnya yang pertama, bahwa dalam tiga puluh halaman pertama, ada kekeliruan logika serius terkait kondisi medis yang dialami Ninna. Singkat kata, kondisi medis Ninna tidak cocok dengan tindakan yang dilakukan kepadanya, dan tidak cocok pula dengan situasi penyembuhan Ninna di bab-bab awal. Patut disayangkan ada yang terlewatkan dari segi riset di titik ini. Juga soal typo (salah ketik) dan redundansi “cukup … saja” dan “hanya … saja” yang lumayan sering terlihat. Selain itu, perihal kemiripan dengan Critical Eleven (Ika Natassa). Aku memang membaca novel itu terlebih dahulu. Bukan berarti aku menganggap Critical Eleven lebih baik. Masalahnya, ketika membaca buku ini, aku sulit memisahkan konflik Gamal-Ninna dari bayang-bayang konflik Ale-Anya di CE. Tema besar yang sama-sama “kehilangan (calon) anak”, setting pun sama-sama di Jakarta (Selatan), ada best friend’s life event yang menyesakkan buat si tokoh utama. Too much similarities, in my opinion. Hanya saja bedanya, menurutku cara Gamal dan Ninna menyelesaikan konflik tidak se-berlarut-larut cara penyelesaian konflik di CE. Bagiku itu suatu hal yang positif, sehingga pembaca tidak sampai dibuat gemas-ke-ubun-ubun karena kelakuan salah satu karakter yang terlalu ngeyel.

Jika kamu mencari novel roman lokal dengan tema kehilangan yang unik, Melankolia Ninna patut kamu perhitungkan untuk menambah koleksimu. Atau mungkin, berminat dengan empat judul Blue Valley lainnya? Selamat mencoba!

Miscellaneous and Ratings

  • Melankolia Ninna on Goodreads
  • My rating: 2/5 (Goodreads), 4/10 (personal)
  • Aku membacanya dalam bentuk: Fisik
  • How to get this book: Gramedia (Rp 51.000, belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get this book: Bukabuku (Rp 48.000, belum termasuk ongkos kirim)

Catatan Najwa (Najwa Shihab, 2016)

Identitas Buku

Title: Catatan Najwa
Author: Najwa Shihab
Published: November 20, 2016
Publisher: Literati
Cover: Paperback
Genre: Politics/Social
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 208 pages
ISBN-13: 987-602-874-0586

Sinopsis Official

Catatan Najwa berisi refleksi Najwa Shihab atas isu yang dibahas di program Mata Najwa. Dengan gaya rima yang khas, Catatan Najwa menggelitik dengan sindiran, menohok tajam, kadang seperti ajakan merenung. Inilah narasi-narasi terbaik Mata Najwa yang akan terus relevan dibaca kapan pun.

Selama para pejabat menghamba harta benda, negara akan terus jadi sapi perah penguasa. Saham kosong dan proyek tersedia, begitulah kisah pejabat negara merendahkan dirinya. (PEJABAT PEMBURU RENTE, hlm. 104)

Rakyat perlu para penegak yang berwibawa, bekerja demi keadilan dengan bangga. Karena kita tak membayar seragam mereka, hanya untuk menegakkan hukum rimba. (HUKUMAN SALAH ALAMAT, hlm. 115)

Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk? Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, jika hanya perkaya diri dan sanak-famili? (DARI JOGJA UNTUK BANGSA, hlm. 159)

***

Joko Pinurbo (Sastrawan)
“Ketika ayat-ayat Najwa dibukukan, kita dapat melihat kembali peta persoalan yang menghiasi tubuh bangsa ini.”

KH. Mustofa Bisri (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin)
“Mata Najwa, Mata Batin Kita.”

Reza Rahadian (Aktor)
“Narasi seorang Najwa mampu membuat kita terkesima. Kita terpancing untuk mencerna dan memikirkan lebih saksama. Ini tak sekadar goresan kata-kata. Ini adalah keteguhan sikap dan kejelian mengolah kata dan rasa.”

Sujiwo Tejo (Dalang)
“Indonesia tanpa Pancasila kehilangan dasar, Indonesia tanpa Mata Najwa kehilangan pandangan.”

Surya Paloh (Chairman Media Group)
“Metro TV lahir dengan misi mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan di sini jejak langkah Najwa bermula. Inilah cara Metro TV mendidik jurnalisnya. Membangun integritas tanpa batas.”

Wishnutama Kusubandio (CEO NET Mediatama Televisi)
“Menonton Mata Najwa bagi saya bukan hanya menambah value, wawasan dan hiburan, tetapi juga memberi semangat kepada diri saya sendiri dalam berkarya.”

Continue reading

Markituka BBI 2016: My Wishlist

Buenas tardes.

Markituka akhir tahun itu selalu berdekatan dengan ultah blog-ku (13 Desember). Kebetulan, aku lagi mau merombak blog ini menjadi blog buku umum, bukan hanya buku nonfiksi lagi seperti sebelumnya. Jadi maafkan kalau blog-ku (dalam format baru) masih berantakan begini.

Lho, jadi curcol? Back to topic: Sambil aku membetulkan blog, inilah wishlist dariku untuk ikutan Markituka Desember 2016 (kuurutkan dari harga terendah ke harga tertinggi).

Dalam IDR

  1. [novel, lokal, Bukabuku.com] Spammer – Ronny Mailindra – Rp 51.200 [bisa dipesan di sini]
  2. [novel, terjemahan, Bukabuku.com] The Atlantis Gene – AG Riddle – Rp 66.000 [bisa dipesan di sini]
  3. [novel, lokal, Gramedia.com] The Book of Forbidden Feelings – Lala Bohang – Rp 69.600 [bisa dipesan di sini]
  4. [nonfiksi, internasional, Periplus.com] Catching the Catfishers – Tyler Cohen Wood – Rp 74.000 [bisa dipesan di sini]
  5. [nonfiksi, internasional, Periplus.com] The Naked Future – Patrick Tucker – Rp 75.000 [bisa dipesan di sini]

Dalam USD

  1. [nonfiksi, internasional, Amazon Kindle Bookstore/digital only] How to Write A Damn Good Novel II – James N. Frey – USD 7.39 Kindle Edition [bisa dipesan di sini]
  2. [fiksi, internasional, Amazon Kindle Bookstore/digital only] All The Lights We Cannot See – Anthony Doerr – USD 10.43 [bisa dipesan di sini]

Catatan: Harga tercantum adalah akurat per 11 Desember 2016. Untuk buku-buku dalam bentuk Amazon Kindle, aku mengasumsikan tidak ada ongkos kirim. Tidak ada buku mana pun yang lebih kuprioritaskan – aku pasrah pada apa pun pemberian yang datang 🙂

 

Segitu saja dulu ya… Semoga tidak terlalu susah dan tidak terlalu memberatkan.

Thank you!

We Should Hang Out Sometime (Josh Sundquist, 2016)

Identitas Buku

Judul: We Should Hang Out Sometime
Penulis: Josh Sundquist
Genre: Autobiography
Terbit: Januari 2016 (versi paperback), Desember 2014 (versi hard cover)
Bahasa: Inggris
Penerbit: Little Brown
Cover: Paperback
Tebal: 348 pages
ISBN-13: 978-031-625-100-6

Sinopsis Official

Josh Sundquist only ever had one girlfriend.
For twenty-three hours.
In eighth grade.

Why was Josh still single? To find out, he tracked down the girls he had tried to date and asked them straight up: What went wrong?

The results of Josh’s semiscientific, wholly hilarious investigation are captured here. From a disastrous Putt-Putt date involving a backward prosthetic foot, to his introduction to CFD (Close Fast Dancing), to a misguided “grand gesture” at a Miss America pageant, this story is about looking for love–or at least a girlfriend–in all the wrong places.

Resensi

Aloha! Ini review buku nonfiksi pertamaku setelah nyaris lima bulan “vakum”.

Masih dengan buku-buku nonfiksi tentang kisah hidup seseorang, kali ini kita akan membahas buku tentang penyintas kanker yang sangat unik. Selama ini kita sudah sangat sering disuguhi buku tentang penyintas kanker, yang mengisahkan bagaimana mereka menjalani hidup setelah sembuh. Umumnya, warna buku-buku tersebut pun muram. Ceritanya sedih sesedih-sedihnya, atau minimal melankolis-senang-mendayu-dayu dan berulang dari awal sampai habis. Aku pun lama-kelamaan jadi jenuh kalau harus baca buku yang begitu lagi, begitu lagi.

Buku ini pun, sebetulnya masuk dalam kategori yang sama. Penulisnya, Josh Sundquist, pernah kena kanker di umur 9 tahun, kemudian diamputasi, dan menjalani hidup sebagai kaum disabled. Sekarang, atlet ski Paralympic ini juga menjadi pembicara motivasional. Sekilas, premisnya sama saja dengan buku-buku penyintas kanker yang lain.

Eh, lantas, apa yang membedakan buku ini dengan buku sejenis lainnya?

Nih, ya. Sepengamatanku, aspek yang membedakan buku ini dari autobiografi/biografi penyintas kanker biasa, ada tiga.

Pertama, aspek tema. Buku ini membahas soal pacar-pacar (well, jangan bilang begitu deh. Itu cuma friendzone, rata-rata) Josh yang cuma seumur jagung dan lucu-lucu. Lucu dalam hal beragam: Mulai dari musibah saat kencan, kesalahan bertindak, kesalahan meraih momen, sampai ada juga kasus-kasus salah paham yang bikin gemes. Kelucuan inilah yang bikin kita serasa tidak sedang membaca kisah penyintas kanker, justru seperti membaca kisah orang biasa.

Kedua, aspek cara penuturan. WSHOS dibagi atas beberapa babak, yang masing-masing menggunakan nama samaran para gadis. Setiap babak juga memuat tiga bagian: Kisah, Hipotesis, dan Investigasi. Ah, gokil bener. Bagian “Kisah” menuturkan tentang pengalaman Josh dengan gadis yang bersangkutan, mulai dari berkenalan, pendekatan, berkencan, sampai musibah (kalau ada). Selanjutnya, “Hipotesis”, yang membicarakan tentang dugaan konyol Josh tentang “kenapa gadis itu tidak mau jadi pacarku”. Dan yang paling koplak dan banyak mencetuskan “oooh” moment buatku, “Investigation”. Di sini Josh menyelidiki perasaan si gadis setelah mereka putus hubungan. Ada yang dilakukan segera, ada juga yang bertahun-tahun lewat. Menarik!

Ketiga, ciri khas Josh yang suka menampilkan grafik-grafik lucu sebagai selipan di tulisannya, tetap terbawa ke dalam buku ini dengan sangat baik. Coba simak grafiknya. Mungkin ada yang nyantol dengan diri kalian sendiri? Atau, coba simak akun Instagram-nya Josh (nanti, ada link-nya di bawah).

Nah, soal nilai-nilai, kira-kira apa ya, manfaat atau motivasi yang didapat dari WSHOS? Inti utamanya, menurutku, adalah soal kepercayaan diri. Hubungan enggak melulu bisa dihitung di atas kertas, tidak melulu masalah perasaan, tapi juga membutuhkan kepercayaan diri, timbang rasa, main kira-kira, dan ekspresi seni. Begitulah. Selain itu, juga banyak nilai yang disampaikan terutama dari aspek sosial, terutama tentang perlakuan terhadap kaum disabled. Josh mengungkapkannya dengan gaya kocak, namun sering bikin pembacanya berpikir.

Sebagai penutup, buku ini direkomendasikan buat kalian yang butuh motivasi untuk meningkatkan kepercayaan diri, atau buat para penggemar biografi yang ingin mencari buku “unusual”.

Miscellaneous & Ratings

3-star

 

  • Saya membacanya dalam bentuk: Fisik

 

Save

We Were Liars – Para Pembohong (2014)

Identitas Buku

we-were-liars-gramedia-2016

Title: We Were Liars (Para Pembohong)
Author: E. Lockhart
Indonesian Translator: Nina Andiana
Published: 13 Mei 2014
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiction, suspense, young adult
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 296 pages
ISBN-13: 987-602-030-6711
Awards: Georgia Peach Book Award (2015), Pennsylvania Young Readers’ Choice Award Nominee for Young Adults (2016), Milwaukee County Teen Book Award Nominee (2015), The Inky Awards Nominee for Silver Inky (2015), Bookworm Best Award for Best Fiction (2014)
Goodreads Choice Award for Young Adult Fiction (2014), The Magnolia Award for 9-12 (2016)

Sinopsis Official

Keluarga yang menawan dan disegani.
Pulau pribadi.
Gadis cerdas yang risau; pemuda politis yang penuh semangat.
Empat sahabat—Para Pembohong—dengan pertemanan yang kemudian menjadi destruktif.
Kecelakaan. Rahasia.
Kebohongan demi kebohongan.
Cinta sejati.
Kebenaran.

Para Pembohong merupakan novel suspense modern karya E. Lockhart, finalis National Book Award dan penerima Printz Award. Bacalah.

Dan jika ada yang bertanya bagaimana akhir cerita ini, JANGAN BERITAHUKAN.

Continue reading