My Blurbs Episode 6: Flashes, flashes

Biasanya saya tidak menggunakan teknik skimming waktu membaca buku nonfiksi, dengan alasan klasik yang sebetulnya kurang masuk akal: Takut kehilangan detail ketika menikmati bacaan nonfiksi. Nah, di My Blurbs kali ini, saya membahas tiga buku nonfiksi yang saya selesaikan dalam waktu yang bisa dikatakan sangat singkat gara-gara saya menggunakan teknik skimming waktu membacanya.

storyofmylife-azka   30-interactive-brain-teaser   bookofanswers-black

Continue reading

loveinparis

Love in Paris (Silvarani, 2016)

Identitas Buku

Judul: Love in Paris
Penulis: Silvarani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiksi, young adult, romance, religi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 13 April 2016
Tebal: 224 halaman
Cover: Soft cover
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-602-032-661-0

Sinopsis Official

Paris… tragis atau romantis?

Ternyata, Paris tak hanya romantis, tetapi juga tragis. Lihat saja sejarah revolusi. Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette, dihukum mati di kota ini. Bersamamu, kira-kira Paris akan menampakkan wajah yang mana? Tragis… atau romantis?

Sheila begitu bahagia bisa ke Paris untuk melanjutkan kuliah di Pantheon-Sorbonne. Yang memberatinya hanya satu: Sony pacarnya tak mau menjalani LDR Jakarta–Paris. Berangkat dengan hati patah, Sheila mencoba meyakini bahwa Paris akan menghadiahkan hidup dan cinta baru.

Lalu muncullah Leon, sahabat kakaknya semasa SD. Laki-laki blasteran Prancis-Indonesia itu berprofesi sebagai fotografer. Bayangan Leon yang dulu mengimami Sheila saat shalat seketika pupus, berganti sosok “asing” yang menjalani gaya hidup khas kota besar. Walau agak kecewa, tak bisa dimungkiri Leon berhasil membuat Sheila terpesona. Pun sebaliknya. Pencarian iman mendekatkan mereka berdua, tapi juga mengombang-ambing hati keduanya.

Di bawah langit Paris, haruskah Sheila kehilangan cinta lagi? Mampukah gadis ini bersabar menunjukkan jalan lurusNya kepada Leon?

Resensi

Kerepotan saya sejak tanggal 16 Februari hingga 28 Maret 2016 di tantangan ulang tahun ke-42 Gramedia Pustaka Utama, akhirnya “terbayar” dengan hadiah dua buah buku dari Gramedia. Buku ini adalah salah satunya. Betul, Saudara-saudara, saya mendapatkan buku ini ketika banyak orang tengah membicarakannya, dan beberapa rekan blogger tengah menyodorkan buku ini untuk dijadikan hadiah giveaway. Salah satu dari serial buku Love Around The World yang sedang heboh itu. Hal-hal inilah yang bikin saya semangat untuk segera menyelesaikan buku yang covernya unik ini.

Jadi, ceritanya buku ini membahas hubungan Sheila, seorang remaja berkecukupan berusia 18 tahun yang baru saja mulai melanjutkan pendidikan di Paris; dengan sahabat kakaknya yaitu Leon, pemuda yang telah tinggal lama di Prancis dan bekerja sebagai fotografer. Keduanya dipertemukan karena situasi dan kondisi yang agak berbau kebetulan. Di sinilah, dijelaskan bagaimana Sheila dan Leon mulai menjalin hubungan, dari masalah persahabatan hingga berlanjut ke masalah keyakinan. Bagaimanakah akhir kisah mereka? Akankah Sheila yang bercita-cita menikah muda berhasil meraih keinginannya? Dan apakah Leon yang selama ini tercatat sebagai umat Islam namun tak pernah menjalankan kewajiban beragamanya, dapat kembali ke jalan yang benar?

Setelah tahu bahwa tema utama dari buku ini adalah soal romantisme hubungan yang dibungkus nuansa religi, saya sempat khawatir. Akankah nasib buku ini di tangan saya bakal seperti Ayat-Ayat Cinta? (catatan: Saya tidak menyelesaikan buku yang satu itu dan saya memberinya rating 1 di Goodreads)

Eits sebentar, jangan buru-buru memvonis saya anti dengan cerita berbau religi yah. Menurut saya, selama suatu cerita tidak terlalu mengedepankan propaganda di balik kemasan religinya, topik religi tidak akan pernah jadi masalah untuk menikmati cerita. Meskipun barangkali posisi saya adalah sebagai pihak luar. Jadi, masalah genre tak jadi soal buat saya. Dan yang juga saya perlu garis bawahi, ternyata tema islaminya sama sekali tidak basi dan terlalu mendayu seperti Ayat-Ayat Cinta. Menurut saya, cara penulis mengangkat isu pemahaman terhadap agama Islam telah disesuaikan dengan situasi modern, dan dengan porsi yang pas sesuai perkembangan zaman. Cara pandang pihak luar terhadap Islam pun diangkat di sini, dengan proporsi yang tepat dan cara menanggapi yang lazim ditemui di kenyataan pula.

Soal pengambilan tema, bisa dibilang bahwa cara penulis membuka buku ini cukup menarik. Meskipun buat saya agak cheesy, tetapi tetap saja pengambilan sudut awal sudah cukup mendatangkan rasa penasaran. Namun, selanjutnya, yang lebih mengundang rasa ingin tahu adalah soal hubungan para tokohnya.

Bagaimana soal deskripsi Paris yang diutarakan dalam novel ini, dan yang banyak disebut-sebut para penikmat novel young adult itu? Nah, saya sudah membuktikan bahwa deskripsi Paris yang dijabarkan di sini lumayan komprehensif. Tapi, jangan terlalu berharap bahwa kalian bisa berpegang pada buku ini untuk dijadikan referensi buat jalan-jalan ke Paris. Bagaimanapun buku ini adalah novel dan bukan travel guide 🙂 Dan saya harus mengakui, bahwa deskripsi Paris yang disampaikan cukup menambah bumbu di bab-bab awal hingga pertengahan buku ini. Tentunya bumbu yang sedap, ya.

Juga soal frasa-frasa dalam bahasa Prancis. Lumayan untuk belajar bahasa Prancis dasar, meskipun juga, lagi-lagi, kalian tidak bisa hanya berpegang pada buku ini untuk mendapatkan basis bahasa Prancis yang baik. Kembali, lebih sekadar menambah pengetahuan dan wawasan soal Prancis saja.

Satu-satunya masalah buat saya dari novel ini – dan sayangnya, masalah yang terbesar pula – adalah perihal cara buku ini ditutup.

Mengapa? Menurut saya, seteguh-teguhnya orang berprinsip (karena seperti itulah tokoh Sheila digambarkan), bab sebelas buku ini adalah cara eksekusi yang teramat janggal, apalagi kalau kita baru saja selesai membaca bab sepuluh. Janggalnya bahkan di luar dugaan, di luar fantasi science fiction teraneh yang pernah saya baca, dan… Intinya ending ini betul-betul membuat saya melongo. Dan saya sangat kecewa karenanya. Mengapa bab-bab awal dan pertengahan yang sudah dijalin dengan baik ini seolah diakhiri dengan dicekik begitu? Apakah tidak bisa transisinya dibuat lebih halus?

Sungguh disayangkan… Atau mungkin, saya memang tidak “ditakdirkan berjodoh” dengan genre romance. Jika benar, berarti masalah ada di selera saya dan bukan di buku ini.

Akhir kata, mungkin saya sulit menyatakan akan merekomendasikan buku ini atau tidak untuk kalian. Jika kalian amat mementingkan akhir cerita dalam memilih suatu novel, kalian bisa saja akan kecewa seperti saya. Tetapi jika kalian ingin menikmati suasana Paris dan membayangkannya selagi membaca, tentu buku ini bisa terasa lebih nikmat.

Review

  • Saya membacanya dalam bentuk; Fisik
  • Love in Paris on Goodreads
  • My Personal Goodreads Rating 1/5

1-star

How to get this book

  • Toko buku Gramedia Rp 55.000
  • Gramedia.com Rp 55.000 (belum termasuk ongkos kirim)
  • Scoop Rp 31.200 (digital version only)

Save

foodie-and-the-city-petualangan-kuliner-jelajah-rasa

Foodie and the City: Petualangan Kuliner Jelajah Rasa (Nadia Mulya, Joy Roesma, Vania Wibisono, 2015)

Identitas Buku

Judul buku: Foodie and the City: Petualangan Kuliner Jelajah Rasa
Penulis: Nadia Mulya, Joy Roesma, Vania Wibisono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Non-fiksi, Lifestyle
Tebal: 292 halaman
Ukuran: 15 cm x 21 cm
Bahasa: Indonesia
Terbit: 24 Agustus 2015
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-602-032-022-9

Sinopsis Official

Makan dan masak. Dua hal yang dahulu fungsi utamanya adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia. Oh, life was so simple back then. Sekarang ini—di era melejitnya program acara masak, booming-nya superfood dan dessert nggemesin, media sosial dan #FoodPorn, penelitian reaksi kimia dan fisika terhadap molekul makanan, serta apresiasi baru terhadap masakan tradisional—makan dan masak telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih besar. Makan dan masak telah menjadi barometer penting dalam gaya hidup, sarana meng-upgrade status, wujud komitmen (atau pencitraan) hidup sehat, ajang mencetak uang, mediator dalam memburu cinta, bahkan indikator tingkat ke-happening-an seseorang (check in di Path atau Instagram untuk mewartakan restoran hits itu hukumnya wajib!) Dari pecak gurame hingga foie gras, dari food truck hingga restoran dengan waiting list tujuh tahun, dari food selfie sampai aphrodisiac berbonus quickie, semua perihal kepuasan duniawi bernama makanan ini dikupas tuntas. Oh yeah.

Joy Roesma dan Nadia Mulya mengupas fenomena ini dan mengajak Anda menjelajah rasa dengan gaya penulisan mereka yang ringan, menyentil, dan penuh cerita juicy layaknya kedua buku bestseller mereka sebelumnya, Kocok!: The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites dan Moms and the City. Sementara chef cantik, Vania Wibisono, turut berbagi pengalaman kuliner dan secara spesial meramu resep kreatif dengan tiga tingkat kesulitan berbeda yang menjamin akan membuat Anda food coma.

Buku Foodie and the City dapat dinikmati semua jenis foodie: dari yang suka makan, ingin menggeluti bisnis kuliner, hobi memasak, hobi diet, pemerhati gaya hidup, sampai yang kepo dengan cerita behind the scene di balik sepiring hidangan nikmat. Apa pun motivasinya, bersiaplah untuk merasakan klimaks kuliner!

“Sebuah bacaan ringan yang dibumbui topik menarik dan menghibur, ditaburi resep aplikatif, dan di-garnish dengan kejadian sosial masa kini. Sebuah buku yang telah dipersiapkan menggunakan bahan-bahan informasi berkualitas yang diracik oleh tiga foodie berpengalaman dengan penyajian yang berbeda namun tetap memuaskan.”
—Chef Degan Septoadji Suprijadi
Celebrity chef dan pemilik Café Degan Bali dan restoran Letter D

Continue reading

positivethinkingwesfix

Positive Thinking Itu Dipraktekin (Tim Wesfix, 2013)

Identitas Buku

positivethinkingwesfix

Judul buku: Positive Thinking Itu Dipraktekin
Penulis: Tim Wesfix
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Genre: Self-help
Ukuran: 20 cm x 13.5 cm
Tebal: 154 halaman
Terbit: 30 September 2013
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-251-217-2

Sinopsis Official

Dengan halaman full-color dan gaya penyampaian yang serba visual, serta pembahasan yang singkat-padat, Anda akan merasakan perbedaannya. Buku ini tidak sekadar membuat informasi Anda bertambah, tapi juga akan membuat Anda tersenyum, terperangah, sekaligus manggut-manggut. Asyik dibaca!

Sikat buku ini terutama buat Anda: remaja, pekerja kantor, manajer, entrepreneur, hmmm, artis, penulis, dan semuanya yang tertarik untuk berpikir positif

Continue reading