Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh: Supernova #1 (Dee Lestari, 2001)

Identitas Buku

Title: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (Supernova #1)
Author: Dee Lestari
Published: 2001 (republished 2012)
Publisher: Bentang Pustaka
Cover: Paperback
Genre: Science Fiction, Romance
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 322 halaman
ISBN-13: 978-602-881-172-9

Sinopsis Official

Menunaikan ikrar mereka untuk berkarya bersama, pasangan Dimas dan Reuben mulai menulis roman yang diberi judul Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Paralel dengan itu, dalam kehidupan nyata, sebuah kisah cinta terlarang terjalin antara Ferre dan Rana. Hubungan cinta mereka merepresentasikan dinamika yang terjadi antara tokoh Kesatria dan Putri dalam fiksi Dimas dan Reuben. Tokoh ketiga, Bintang Jatuh, dihadirkan oleh seorang peragawati terkenal bernama Diva, yang memiliki profesi sampingan sebagai pelacur kelas atas.

Tanpa ada yang bisa mengantisipasi, kehadiran sosok bernama Supernova menjadi kunci penentu yang akhirnya merajut kehidupan nyata antara Ferre-Rana-Diva dengan kisah fiksi karya Dimas-Reuben dalam satu dimensi kehidupan yang sama.

Continue reading

30 Paspor di Kelas Sang Profesor (J.S. Khairen, 2014)

Identitas Buku

Judul: 30 Paspor di Kelas Sang Profesor: Kisah Anak-anak Muda Kesasar di Empat Benua (2 buku)
Penulis: Jombang Santani Khairen
Genre: Travel
Terbit: Oktober 2014
Bahasa: Indonesia
Penerbit: NouraBooks
Cover: Paperback
Tebal: 328 halaman (buku 1) + 325 halaman (buku 2)
ISBN-13: 978-602-130-673-4 (buku 1) + 978-602-130-674-1 (buku 2)

Sinopsis Official

Paling lambat 1,5 bulan ke depan, kalian semua harus sudah berangkat!

Demikian ucapan Prof. Rhenald Kasali pada hari pertama masuk kuliah Pemasaran Internasional yang sontak membuat kelas gaduh luar biasa. Negara tujuan ditentukan saat itu juga. Sementara paspor harus didapatkan dalam waktu dua minggu ke depan.

Metode kuliah yang awalnya ditentang banyak orang tersebut—dari orangtua mahasiswa sampai sesama dosen—terbukti menjadi ajang “latihan terbang” bagi para calon rajawali. Demikian Prof. Rhenald mengibaratkannya. Tersasar di negeri orang dapat menumbuhkan mental self driving, syarat untuk menjadi pribadi yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab.

Dalam jilid pertama buku ini, para mahasiswa mengalami sendiri berbagai pengalaman unik. Ketinggalan pesawat, digoda kakek-kakek genit, kena tipu oleh pengemis, adalah beberapa di antaranya.

Resensi

Baru membaca blurb-nya saja, saya sudah dibuat tertarik. Berhubung saya sendiri tidak paham situasi dan kondisi kampus Depok, bukan pula pembaca surat kabar yang baik, jadi jujur saja baru dengar “ulah” Prof. Rhenald Kasali lewat blurb buku ini.

Bayangkan diri Anda adalah mahasiswa tingkat 3 atau 4, baru berumur 20-22 tahun dan belum punya penghasilan sendiri, tapi tahu-tahu disuruh urus paspor sendiri, lalu gilanya disuruh bepergian sendiri ke luar negeri, tidak boleh ke negara yang berbahasa Melayu, tidak boleh dibantu tur ataupun keluarga, dan tidak boleh berdua atau bertiga dengan teman sekelas ke negara yang sama. Semuanya ini dihitung dalam penilaian kelulusan mata kuliah yang bernama Pemasaran Internasional. Satu lagi syarat: Perginya harus sebelum ujian tengah semester! Pusing kan? Saya bisa membayangkan jika saya ada di posisi mereka, sudah bisa dijamin langsung pikiran kusut seketika!

Kenapa begitu?

Sejauh dari yang pernah saya baca, orang Indonesia memang kreatif namun terkadang suka membatasi dirinya. Mengukur semua hal lewat uang: Bayangkan, Anda belum punya penghasilan tapi harus pergi ke luar negeri. Sementara, ke luar negeri buat orang Indonesia adalah identik dengan kata mahal. Inilah paradigma orang Indonesia yang mau coba didobrak oleh Sang Profesor. Sesuai nama mata kuliahnya yaitu Pemasaran Internasional, Prof menekankan bahwa mahasiswanya harus punya wawasan mendunia dan pengalaman mendunia. Jadi itu: Tidak cuma wawasannya. Tapi pernah mengalami sendiri: Itu yang lebih penting!

Jadilah, buku kembar ini pun hadir sebagai bentuk perpaduan yang kira-kira komposisinya terdiri atas 80% buku travel dan 20% buku motivasi. Inti dari tiga puluh cerita yang dituangkan dalam buku ini sebetulnya mirip-mirip karena memang intisari temanya sama. Mahasiswa-mahasiswa tersebut jalan-jalan sendirian ke luar negeri, lalu mereka menuliskan tentang pengalamannya, dan apa yang mereka rasakan. Kira-kira inilah benang merahnya:

  1. Bepergian ke luar negeri itu mungkin memang tidak murah dan tidak mudah merencanakannya, tapi perlu. Mengapa? Dengan bepergian ke luar negeri, kita bisa mendapatkan pengalaman baru dari tempat yang budayanya berbeda dengan kita. Sehingga mau tidak mau pikiran dan wawasan kita juga akan bertambah luas dan bisa memahami berbagai masalah dari berbagai sisi yang berbeda.
  2. Bepergian ke luar negeri sendirian melatih kemandirian dan daya survival diri sendiri dalam menghadapi kesulitan-kesulitan. Termasuk ketika kesasar.
  3. Orang-orang baik ternyata tak cuma di negeri sendiri tetapi di negara lain pun banyak. Kalau mereka tidak menolong ketika kita bertanya, kemungkinan besar adalah karena mereka tidak mengerti bahasa Inggris, bukan karena jahat.

Di buku satu, saya hanya membaca tiga tulisan dengan teliti, yaitu The Land of Ice and Fire (Islandia), Menikmati Keramahan Negeri Burma (Myanmar), dan Sempitnya Sepatuku (Bangladesh). Favorit saya di buku satu adalah Sempitnya Sepatuku, yang ternyata merupakan kisah mahasiswa yang terlambat memilih dan negara incarannya keburu digondol rekan sekelasnya. Tapi justru saya merasakan semangat juang si mahasiswa inilah yang lebih daripada yang lain di buku satu, apalagi dibanding mahasiswa yang lebih beruntung secara finansial. Bukannya mengeluh, tapi malah mahasiswa luar biasa ini bersemangat sekali menghadapi situasinya. Kisah si mahasiswa ini juga cukup pas dengan premis buku, karena dia termasuk segelintir kontributor di buku ini yang “tidak lupa dengan alasan mengapa dia ke luar negeri saat itu”, di kala kontributor lain terfokus ke urusan plesiran belaka.

Sementara di buku dua, ada dua tulisan yang jadi perhatian khusus buat saya: The Sand, Sun, and The Seven Dirham Shawarma (Uni Emirat Arab) cukup banyak memberikan pelajaran berhemat di negeri (yang katanya) mahal. Petualangan Seru di India juga menarik karena bahasa yang diutarakan sang mahasiswa bisa dibilang ringan dan lucu.

Buku ini tentu tidak lepas dari kelemahan. Ini beberapa kelemahan yang berhasil saya tangkap.

  1. Lumayan sering ada alur loncat yang bikin bingung pembaca. Sebagai contoh, cerita The Land of Ice and Fire (buku 1). Penulis tengah mengutarakan suatu ide, belum selesai, eh tiba-tiba sudah loncat ke ide lain. Ide yang tadi belum terselesaikan ulasannya, dibiarkan begitu saja. Sampai cerita habis tidak dibahas lagi.
  2. Pemilihan kata terkadang kaku, dan setelah saya baca ulang tetap saja saya gagal paham (lagi). Ambil contoh, buku 2 halaman 24 “…Bahkan, banyak kejadian seperti aku diperlakukan dengan tidak ramah. Hal ini berbeda saat misalnya bagian lobi melayani orang asing dengan ramahnya sementara saat aku…”. Saya gagal paham apa maksudnya bagian kalimat yang saya bold tadi. Duh, ya sudahlah saya skip saja daripada bengong lama-lama di situ.
  3. Di buku satu, ada tulisan yang si mahasiswanya kebanyakan mengeluh plus marah-marah (walaupun dia sendiri belakangan bilang bahwa sikapnya itu tidak baik), dan ada pula yang baru ketemu masalah sedikit langsung menyandarkan diri ke orang lain padahal udah jelas dilarang oleh sang profesor. Buat saya, tulisan-tulisan yang seperti itu agak kurang enak dibaca karena agak-agak memperburuk mood. Bagi yang sudah baca, mungkin bisa tebak kontributor yang manakah itu.
  4. Dan yang cukup mengganggu juga adalah inkonsistensi premis soal jumlah negara dan negara tujuan yang boleh disambangi lebih dari satu mahasiswa. Korea, Australia, dan Turki contohnya – padahal di depan disebutkan dengan jelas bahwa satu negara hanya boleh satu mahasiswa. Bahkan Turki: Kalau tidak salah baca, dua mahasiswa itu sama-sama ke Istanbul. Memangnya boleh dua mahasiswa ke kota yang sama? Apakah mereka sekelas atau seangkatan? (Karena tak ada penjelasan juga apakah dua orang yang datang ke negara yang sama tersebut adalah seangkatan atau tidak)
  5. Tidak semua cerita mengisahkan bagaimana reaksi sang profesor ketika melihat laporan perjalanan mereka dipresentasikan. Padahal, sebetulnya saya penasaran lho…

Mungkin muncul pertanyaan, bisakah buku ini dibaca secara acak, atau hanya dibaca buku satunya saja, tanpa buku dua, atau sebaliknya? Jawabannya, menurut saya: Bisa. Buku ini punya tiga puluh tulisan, dengan destinasi wisata berbeda-beda (satu negara hanya muncul maksimal dua kali), dan tentu saja negara mana yang kita baca ya tergantung minatnya kita. Kalau sedang ingin ke India, bacalah tulisan yang membahas India (ada di buku 2). Atau ingin ke Myanmar, bacalah tulisannya di buku 1. Demikian seterusnya. Namun kalau ingin membaca ceritanya hingga komplit, silahkan baca keduanya.

Jadi, akhir kata… Buat saya buku ini sedikit di bawah ekspektasi, terutama buku dua-nya yang terkesan semacam “energinya sudah disedot habis oleh buku satu” buat saya. Tapi bukan berarti buku ini benar-benar jelek dan tidak layak baca, salah. Buku ini pas sekali untuk orang-orang yang masih berpikir dan berparadigma bahwa ke luar negeri itu mahal dan susah dilakukan, bahwa ke luar negeri itu hanya hak buat orang kaya. Selain itu, buat kalian yang butuh buku travel yang merangkap fungsi sebagai buku motivasi, buku ini pun bisa jadi contoh referensi yang pas dengan kebutuhan tersebut.

Kalimat-kalimat menarik

  • Kita pergi jauh untuk menyadari di mana rumah kita yang sebenarnya. (buku 1, halaman 21)
  • Orang membutuhkan pressure supaya mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak mereka duga bahwa mereka bisa melakukannya. (buku 1, halaman 47)
  • Jika banyak warga Indonesia yang masih mengeluh dengan negeri surga ini, mereka harus pergi ke tempat-tempat yang lebih membuat mereka mengeluh. (buku 1, halaman 247)
  • Jadikan orang yang memandang sebelah mata sebagai vitamin semangat. Buktikan kepada mereka bahwa kita bisa dan tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. (buku 2, halaman 12)
  • Di sini rupanya empati orang-orang sangat tinggi. Inikah yang membedakan negara dengan mental juara dengan negara pecundang? (buku 2, halaman 162)

Miscellaneous & Ratings

2.5-star

  • My rating (book 2): 2/5 (Goodreads), 4/10 (Personal)

2-star

  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital – SCOOP

File_001File_000

  • How to get book 1: SCOOP (Rp 40.000 or 500 SCOOP points – digital version only)
  • How to get book 1: Gramedia.com (Rp 54.400 – belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get book 1: Bukabuku.com (Rp 51.200 – belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get book 2: SCOOP (Rp 36.000 or 450 SCOOP points – digital version only)
  • How to get book 2: Gramedia.com (Rp 54.400 – belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get book 2: Bukabuku.com

My Blurbs Episode 6: Flashes, flashes

Biasanya saya tidak menggunakan teknik skimming waktu membaca buku nonfiksi, dengan alasan klasik yang sebetulnya kurang masuk akal: Takut kehilangan detail ketika menikmati bacaan nonfiksi. Nah, di My Blurbs kali ini, saya membahas tiga buku nonfiksi yang saya selesaikan dalam waktu yang bisa dikatakan sangat singkat gara-gara saya menggunakan teknik skimming waktu membacanya.

storyofmylife-azka   30-interactive-brain-teaser   bookofanswers-black

Continue reading

My Blurbs Episode 3: Luck and Money

Di My Blurbs kali ini, saya akan membahas tiga buku yang membicarakan keberuntungan dan uang, yang kebetulan sudah saya baca. Ini dia…

moneychoron   fromhobbytomoney   menjemputkeberuntungan Continue reading

German Wisdom (Diana Mauer, 2015)

Identitas Buku

germanwisdom

Judul buku: German Wisdom – Funny inspirational and thought-provoking quotes by famous Germans
Penulis: Diana Mauer
Tanggal terbit: 3 Oktober 2014 (1st edition), 17 Juni 2015 (2nd edition)
Penerbit: Westhoff Publishing
Bahasa: English
Tebal: 156 halaman
Genre: Non-fiction, collage
Cover: Softcover/paperback
ISBN-13: 978-069-247-409-9

Sinopsis Official

German Wisdom features a fascinating collection of funny, inspirational and thought-provoking quotes by some of Germany’s greatest poets, thinkers and philosophers, as well as from contemporary Germans of note.

See the world through their eyes as they contemplate life, love, freedom, national identity and many other topics from a distinctly German perspective.

A great gift idea for anyone who wishes to know more about their German heritage.

“That which does not kill us makes us stronger.”
-Friedrich Nietzsche

“A Bavarian is a mixture between an Austrian and a human being.”
-Otto von Bismarck

“Farting is done at night, with all your might.”
-Wolfgang Amadeus Mozart

Continue reading

My Life as: Writer (Haqi Achmad-Ribka Anastasia Setiawan, 2013)

Identitas Buku

mylifeaswriter

Judul buku: My Life as Writer
Penulis: Haqi Ahmad & Ribka Anastasia Setiawan
Penerbit: Mizan/PlotPoint
Genre: Non-fiksi, biografi, teknis
Ukuran: 21 cm x 14 cm
Tebal: 200 halaman
Terbit: 4 Maret 2013
Cover: Softcover
ISBN-13: 978-602-948-100-6

Sinopsis Official

Penulis mencatat apa yang dialaminya sebagai sejarah kehidupan. Dan dengan itu ia tidak hanya mengubah hidup sendiri, tapi juga hidup orang lain.

Dalam buku ini, lima penulis mumpuni akan membagi cerita mengenai perjalanan karier mereka. Lima latar belakang berbeda, lima energi kreatif berbeda. Haqi Achmad dan Ribka Anastasia Setiawan menyajikannya untuk kamu. Ya. Hanya untuk kamu.

Kamu butuh buku ini kalau:

– Mau jadi penulis tapi bingung cara mulainya

– Kamu punya banyak cerita menarik dan ingin dibaca banyak orang

– Suka baca buku dan mau akrab sama penulisnya

– Ragu untuk memulai passion

– Mau meyakinkan orang tua kamu tentang bakat menulismu

– Sudah sering nulis tapi belum pernah diterbitkan

– Seorang pendidik yang mau cerita tentang profesi ini

Continue reading

The Tumor – A Non-Legal Thriller (John Grisham, 2016)

Identitas Buku

thetumorjohngrisham

Judul buku: The Tumor, A Non-Legal Thriller
Penulis: John Grisham
Penerbit: Focused Ultrasound Foundation
Genre: Medical, non-fiction
Tebal: 67 halaman
Terbit: 19 Januari 2016
Format: Kindle e-Book
ASIN: B01AUYDNI6

 

Sinopsis Official

John Grisham says THE TUMOR is the most important book he has ever written. In this short book, he provides readers with a fictional account of how a real, new medical technology could revolutionize the future of medicine by curing with sound.

THE TUMOR follows the present day experience of the fictional patient Paul, an otherwise healthy 35-year-old father who is diagnosed with a malignant brain tumor. Grisham takes readers through a detailed account of Paul’s treatment and his family’s experience that doesn’t end as we would hope. Grisham then explores an alternate future, where Paul is diagnosed with the same brain tumor at the same age, but in the year 2025, when a treatment called focused ultrasound is able to extend his life expectancy.

Focused ultrasound has the potential to treat not just brain tumors, but many other disorders, including Parkinson’s, Alzheimer’s, hypertension, and prostate, breast and pancreatic cancer.

For more information, you can visit The Focused Ultrasound Foundation’s website. Here you will find a video of Grisham on the TEDx stage with the Foundation’s chairman and a Parkinson’s patient who brings the audience to its feet sharing her incredible story of a focused ultrasound “miracle.”

Readers will get a taste of the narrative they expect from Grisham, but this short book will also educate and inspire people to be hopeful about the future of medical innovation.

Continue reading