A Copy of My Mind (Dewi Kharisma Michellia, 2016)

Identitas Buku

a-copy-of-my-mindJudul: A Copy of My Mind
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
Genre: Fiksi, drama, adaptasi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 4 April 2016
Tebal: 199 halaman
Cover: Paperback
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-602-375-401-4

Sinopsis Official

Sari, pegawai salon kecantikan, adalah seorang pencandu film. Ia bertemu Alek—si penerjemah DVD bajakan—saat Sari mengeluh tentang buruknya kualitas teks terjemahan di pelapak DVD.

Tak butuh waktu lama hingga keduanya saling jatuh cinta. Sari dan Alek melebur di antara riuh dan bisingnya Ibu Kota. Cinta membuat keduanya merasa begitu hidup di tengah impitan dan kerasnya Jakarta.

Namun, hidup keduanya berubah ketika Sari ditugaskan untuk memberi perawatan wajah seorang narapidana. Ia diutus pergi ke rutan tempat Bu Mirna—terdakwa kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara—ditahan. Rutan itu berbeda dari rutan pada umumnya. Di sana Sari melihat penjara yang fasilitasnya bahkan lebih baik dari kamar indekosnya.

Sari dan Alek terlambat menyadari bahaya sedang mengancam nyawa keduanya, saat Sari secara sengaja mengambil satu keping DVD dari rumah tahanan Bu Mirna.

Resensi (with minor spoiler alert)

Buku sudah sering diadaptasi jadi film. Tapi kalau film best-seller diadaptasi jadi buku? Dan jadilah, ini pengalaman pertama saya membaca buku yang diadaptasi dari film.

Mungkin saya bahas sedikit dulu soal film yang menjadi sumber adaptasi buku ini. A Copy of My Mind versi film, disutradarai Joko Anwar dan dibintangi duet Chicco Jericho-Tara Basro, adalah peraih tiga Piala Citra di Festival Film Indonesia 2015. Berbeda dengan film berlatar Jakarta pada umumnya, film ini justru mengangkat potret masyarakat menengah ke bawah yang hidup di tengah himpitan berbagai masalah di ibukota; tanpa sedikitpun sentuhan sisi glamor darinya. Film yang konon hanya berbudget IDR 250 juta-an ini ternyata sukses di negeri-negeri tetangga terlebih dahulu. Setelah itulah baru film ini dirilis di Indonesia pada Februari 2016.

Meskipun katanya memang berkualitas dan unik, saya sendiri belum menyaksikan film yang satu ini, karena alasan pribadi yang lebih baik jangan saya sebutkan. Namun, karena begitu banyak orang yang bilang film ini unik buat perfilman Indonesia, maka ketika saya mendengar Grasindo akan menerbitkan versi bukunya, saya langsung menaruh ekspektasi tinggi, bahwa bukunya juga akan bagus. Walaupun saya tidak sampai ikutan preorder dan hanya menunggu “momen diskon” dari Scoop, ternyata “pilihan” saya untuk mulai dengan bukunya dan bukan dengan filmnya, sama sekali tidak keliru. Karena saya cukup menikmati buku yang mendebarkan ini!

Fakta bahwa saya menyukai novel adaptasi film yang tidak terlalu tebal ini, adalah sesuatu yang amat tumben terjadi buat saya atas sebuah novel lokal. Sejak halaman pertama, penulis sudah menyampaikan sisi gelap ibukota yang kerap dirasakan sebagian besar lapisan penghuni kota yang konon lebih kejam daripada ibu tiri ini. Dengan suguhan kalimat-kalimat menarik, yang bernada satir tetapi realistis, pembaca (terutama yang hidup di Jakarta) pasti langsung dibuat terpikat dengan premis “pembenaran kaum menengah ke bawah atas kekejaman dan kesenjangan sosial”. Memang agak sinetron, namun begitulah cara pikir sebagian besar warga Jakarta. Karenanya, untuk sekilas, saya merasa buku ini mirip dengan pembuka cerita di film Selamat Pagi, Malam (2014) (yang celakanya juga, belum sempat saya tonton akibat film ini berumur terlalu singkat di bioskop).

Hingga ke tengah, saya merasa alur buku ini lambat. Cerita ketertarikan satu sama lain antara Sari dan Alek, kedua karakter utama kisah ini, dibuat alamiah dan tidak terburu-buru, namun menurut saya malah terlalu pelan dan tidak membangkitkan rasa penasaran penonton, bahkan ketika buku ini sudah melewati 60% bagiannya. Makanya, saya masih bisa meninggalkan buku di halaman 128 tanpa rasa mati penasaran dengan ending cerita yang konon ada di 190-an.

Buku ini diawali dengan latar belakang kehidupan Sari, si pegawai salon kecantikan yang kerap merasa bosan namun mengimpikan home theatre, diceritakan bergantian dengan latar belakang hidup Alek, pria tanpa identitas yang terjebak dalam kehidupan ala preman ibukota namun memilih bekerja sebagai pembuat teks untuk keping film-film bajakan.

Hubungan keduanya dimulai ketika Sari mengamuk ke sebuah lapak penjual DVD bajakan akibat teks film yang ia beli ternyata kacau balau, dan di situlah ia bertemu Alek. Kemudian, entah bagaimana mereka saling mengakui minat film masing-masing, dan mereka mulai merasakan ada kecocokan satu sama lain.

Diskusi film di antara mereka, ketika mereka “membangun hubungan”, pun cukup menarik. Jenis-jenis film yang dibahas pun sukses bikin saya bingung lantaran saya bukan penggila film. Satu-satunya film yang mereka sebut dan saya paham (karena sudah pernah ditonton), hanya My Blueberry Nights – film 2007 karya Wong Kar-Wai, yang agak membikin ngantuk dan setengah absurd itu (Coba googling sendiri ya).

Jangan kaget ketika memasuki halaman 100-an, buku ini justru menonjolkan seks bebas dan krisis identitas sebagai perihal utama yang mengudara. Semacam kritik sosial yang cukup pas tekanannya. Meskipun di halaman-halaman sebelumnya hubungan Sari dan Alek terkadang diwarnai kelucuan, tetapi bagian ini menunjukkan keseriusan mereka dan memperlihatkan bagaimana rasa di antara mereka mulai terbangun. Biasa saja dari segi plot, tetapi cukup kuat dari karakterisasi.

Tetapi ketika saya memasuki 25% terakhir dari buku ini, saya mulai merasakan plot intens yang mulai dengan cepat menuju klimaks. Pertemuan Sari dengan Bu Mirna, dengan cepat menggulirkan sebuah masalah besar yang tak bisa diperkirakan bagaimana akhirnya. Saya juga penasaran sekali bagaimanakah polemik ini akan dikunci dan diketok palunya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Wong halamannya tinggal dikit, gimana cara konflik begini mau dikunci?

Dan… Ternyata, oh ternyata… Tiga bab terakhir dituliskan singkat, dan cerita pun bergulir dengan sangat cepat, sampai-sampai tanpa tersadar bukunya sudah habis! Uh-oh. Berhubung saya membaca dengan otak setengah kosong, saya harus membaca ulang agar tidak missed. Ketika saya mencocokkan ending cerita versi buku dan versi film, ternyata sama. Dan saya berkesimpulan bahwa ending cerita ini, secara umum memang aneh. Pendekatan ending seperti ini, rasa-rasanya belum pernah ada di film-film Indonesia, meskipun saya sudah beberapa kali menemukan film-film luar yang menggunakan cara pendekatan sama.

Nah, seperti apa ending kisah ini? Atau film Hollywood manakah yang ending-nya seperti kisah ini? Saya tidak mau bahas di sini ya. Lebih baik kalian baca sendiri buku ini dan cari tahu sendiri cerita ini mirip film apa – kalau saya ceritakan di sini, nanti keseruannya hilang dan kalian jadi tidak mau baca bukunya. Lalu saya digampar penulis dan Bang Joko. Kabuuurrr…

Balik ke topik. Justru, keengganan Joko mengakhiri cerita dengan memberi pemanis di atas kue seperti lazimnya cerita film Indonesia, dan memilih konsisten menggeber kepahitan dari awal sampai akhir inilah, yang menjadi ciri sekaligus kekuatan dari film A Copy of My Mind. Demikian pula bukunya, tetap menarik dan mendebarkan hingga akhir.

Jadi kesimpulannya? Highly recommended story to enjoy! Terserah mau versi film atau buku, toh memang pada dasarnya cerita ini menarik untuk disimak.

Kalimat-kalimat menarik

  • p.16: Cerdas sekaligus jujur adalah kriteria penghuni surga. Di dunia, tak pernah ada yang sesempurna itu.
  • p.31: Membayangkan Budhe yang sepuh itu meninggal karena tinju-tinjuan sama pencuri untuk berebut TV bikin gue jarang berani keluar rumah lama-lama.
  • p.63: Ini kunci bahagia berikutnya: Kebisingan jalanan selalu bisa ditandingi gemuruh musik.
  • p.63: Percayalah, membisiki diri sendiri bisa membuat daya tahan lu lebih kuat dibandingkan menenggak minuman penambah stamina.
  • p.65: Kenapa manusia mencari rasa aman?
  • p.70: Lu kalau mau cari yang bagus, ya cari yang asli lah.
  • p.98: Dia bisa jadi ibu yang baik untuk mengkaderisasi anak jadi gila film juga.
  • p.115: Kata orang, pemenang adalah yang tertawa terakhir. Kamu akan tertawa terakhir kalau kamu tertawa terus. Jadi, kita memang harus tertawa, dan sering-sering tertawa, biar kita menang atas hidup.
  • p.180: Tapi sewaktu lu menjalani hidup, lu enggak akan pernah tahu bagian mana yang jadi awal dan akhir. Lu enggak tahu siapa yang jadi tokoh utama dan tokoh sampingan.

Review

  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital, Scoop
  • A Copy of My Mind on Goodreads
  • My personal Goodreads rating 4/5

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 50.000
  • Gramedia.com: Rp 42.500 (belum termasuk ongkos kirim)
  • Scoop Rp 31.200 (digital version only)

The Girl on The Train (Paula Hawkins, 2015)

Identitas Buku

girlontrain

Judul: The Girl on The Train
Penulis: Paula Hawkins
Genre: Fiction, crime, thriller
Bahasa: Indonesia
Tebal: 440 halaman
Ukuran: 14 cm x 26 cm
Terbit: 13 Januari 2015 (versi bahasa Inggris – Kindle & Hardcover), 26 Agustus 2015 (versi bahasa Indonesia)
Penerbit: Noura Books Publishing
ISBN-13: 978-602-098-997-6

 

Sinopsis Official

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Setiap hari dia terguncang-guncang di dalamnya, melintasi sederetan rumah-rumah di pinggiran kota yang nyaman, kemudian berhenti di perlintasan yang memungkinkannya melihat sepasangan suami istri menikmati sarapan mereka di teras setiap harinya. Dia bahkan mulai merasa seolah-olah mengenal mereka secara pribadi. “Jess dan Jason,” begitu dia menyebut mereka. Kehidupan mereka-seperti yang dilihatnya-begitu sempurna. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya sendiri yang baru saja hilang.

Namun kemudian, dia menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini segalanya berubah. Tak mampu merahasiakannya, Rachel melaporkan yang dia lihat kepada polisi dan menjadi terlibat sepenuhnya dengan kejadian-kejadian selanjutnya, juga dengan semua orang yang terkait. Apakah dia telah melakukan kejahatan alih-alih kebaikan?

Continue reading

Mockingjay (Suzanne Collins, 2010)

Identitas Buku

Book Title: Mockingjay
Part of Series: The Hunger Games (Book 3)
Author: Suzanne Collins
Genre: Fiction, fantasy, action
Paperback: 400 pages
Publisher: Scholastic Press; 1st edition (February 25, 2014 in Paperback)
Language: English
ISBN-10: 0545663261
ISBN-13: 978-0545663267
Product Dimensions: 0.8 x 5.2 x 8 inches

 

 

 

Continue reading