Melankolia Ninna (Robin Wijaya, 2016)

Identitas Buku

Title: Melankolia Ninna
Author: Robin Wijaya
Published: December 12, 2016
Publisher: Falcon Publishing
Cover: Paperback
Dimension: 13 cm x 20 cm
Genre: Romance
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 204 pages
ISBN-13: 978-602-605-141-7

Sinopsis Official

Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Dari gerbang, ambillah jalan ke kanan, dan temukan satu-satunya rumah yang berpagar. Kau tidak akan salah. Pemiliknya adalah sepasang suami istri. Sang suami pandai merupa kayu-kayu menjadi perabot yang indah, sedangkan sang istri menata rumah dengan nuansa vintage yang meneduhkan. Bersama-sama, keduanya menghidupkan ruang impian mereka: sebuah kamar bayi yang dipenuhi warna.

Namun, duka menghampiri. Sang istri kehilangan rahimnya sebelum sempat mengandung impian mereka. Menyisakan luka yang mewujud sebuah melankolia. Gamal dan Ninna, menatap pupus harapan, seperti hidup yang hanya menyisakan warna kelabu saja.

Resensi

Ceritanya, di awal Desember 2016, Falcon Publishing menyelenggarakan lomba Tantangan Nulis via editornya (Jia Effendie). Hadiahnya adalah buku-buku serial Blue Valley, yang totalnya berisi lima buku (buku ini adalah salah satunya). Kebetulan, buku inilah yang dihadiahkan kepadaku, setelah tulisan fiksiku tentang tukang fotokopi ternyata termasuk salah satu dari enam tulisan bertema “kehilangan” yang terpilih.

Meskipun aku bukanlah penggemar novel-novel roman maupun tulisan roman murni, menurutku premis Blue Valley sebagai sebuah serial dan Melankolia Ninna khususnya, cukup menarik. Tema kehilangan memang menjadi salah satu komponen dalam tulisan-tulisan roman yang mampu memainkan emosi pembaca dengan caranya tersendiri, dan sering menjadi penguat konflik roman yang memberi nilai jual tersendiri. Cara mengatasi kehilangan pun menjadi titik sumber rasa penasaran para pembaca, sehubungan dengan itu. Terkhusus Melankolia Ninna, premis ketidakmampuan Ninna untuk memiliki keturunan ini cukup “nendang”.

Penuturan sang penulis, Robin Wijaya, cukup nyaman diikuti. Bahasa yang digunakannya sederhana dan mudah dipahami, tanpa terlalu banyak bunga yang membingungkan. Tidak ribet, tidak menjerumuskan, tidak terlalu dalam – adalah ciri bahasa yang ditonjolkan di kisah ini. Bagian paling menarik adalah ketika dengan lugasnya, Robin mengungkapkan tentang cara Gamal melamar Ninna yang begitu unik dan “patriotik”. Inilah bagian favoritku dari buku ini, karena cukup manis, sekaligus sangat menempel di memori pembaca.

Usaha penulis untuk membedakan cara pikir Gamal dan Ninna juga tergambar cukup baik lewat pembedaan texting metode bicara (“gue” di Gamal dan “aku” di Ninna, faktual di Gamal dan perasaan di Ninna). Hanya saja, menurutku metode pembukaan di bagian karakter masing-masing masih monoton. Semua suara, baik Gamal maupun Ninna, selalu “bermula dengan kata bijak”, hingga lama-kelamaan aku pun semakin bingung ini siapa yang sedang bicara, kalau tidak mengacu pada “aku” atau “gue” itu tadi. Lama-kelamaan, mereka terlihat semakin “satu suara”, dan aku sebagai pembaca tidak lagi peduli ini suara siapa. Namun, karena Robin menjelaskan dengan gamblang siapa yang sedang bicara apa dalam teksnya, menurutku ini bukan suatu nilai minus yang serius.

Untuk kelemahan, memang masih ada beberapa. Misalnya yang pertama, bahwa dalam tiga puluh halaman pertama, ada kekeliruan logika serius terkait kondisi medis yang dialami Ninna. Singkat kata, kondisi medis Ninna tidak cocok dengan tindakan yang dilakukan kepadanya, dan tidak cocok pula dengan situasi penyembuhan Ninna di bab-bab awal. Patut disayangkan ada yang terlewatkan dari segi riset di titik ini. Juga soal typo (salah ketik) dan redundansi “cukup … saja” dan “hanya … saja” yang lumayan sering terlihat. Selain itu, perihal kemiripan dengan Critical Eleven (Ika Natassa). Aku memang membaca novel itu terlebih dahulu. Bukan berarti aku menganggap Critical Eleven lebih baik. Masalahnya, ketika membaca buku ini, aku sulit memisahkan konflik Gamal-Ninna dari bayang-bayang konflik Ale-Anya di CE. Tema besar yang sama-sama “kehilangan (calon) anak”, setting pun sama-sama di Jakarta (Selatan), ada best friend’s life event yang menyesakkan buat si tokoh utama. Too much similarities, in my opinion. Hanya saja bedanya, menurutku cara Gamal dan Ninna menyelesaikan konflik tidak se-berlarut-larut cara penyelesaian konflik di CE. Bagiku itu suatu hal yang positif, sehingga pembaca tidak sampai dibuat gemas-ke-ubun-ubun karena kelakuan salah satu karakter yang terlalu ngeyel.

Jika kamu mencari novel roman lokal dengan tema kehilangan yang unik, Melankolia Ninna patut kamu perhitungkan untuk menambah koleksimu. Atau mungkin, berminat dengan empat judul Blue Valley lainnya? Selamat mencoba!

Miscellaneous and Ratings

  • Melankolia Ninna on Goodreads
  • My rating: 2/5 (Goodreads), 4/10 (personal)
  • Aku membacanya dalam bentuk: Fisik
  • How to get this book: Gramedia (Rp 51.000, belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get this book: Bukabuku (Rp 48.000, belum termasuk ongkos kirim)
Advertisements