11:11 (Lucia Priandarini, 2016)

Identitas Buku

11-11

Judul: 11:11
Penulis: Lucia Priandarini
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
Genre: Fiksi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 14 Maret 2016
Tebal: 184 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-602-375-376-5

Sinopsis Official

Apa hal terburuk dari bertemu orang dari masa lalu? Bisa jadi jawabannya adalah menghadapi kepingan diri pada masa silam yang diam-diam ingin disembunyikan. Orang bilang masa lalu mestinya ditinggalkan demi menatap masa depan. Padahal, masa lalu adalah cermin untuk mengingat siapa dan dari mana perjalanan manusia bermula.

Btari tidak menyangka open trip pertamanya ke Bromo membawanya berjumpa dengan Mikhail teman masa kecilnya. Btari tak pernah lagi bertemu Mikha sejak keluarganya memutuskan pindah ke Jakarta. Dan, kini ia berjumpa Mikha, empat minggu jelang hari pernikahan dengan tunangannya.

Perjalanan 1 x 24 jam menuju Bromo bersama laki-laki dari masa lalu membawa Btari pada kisah baru. Menyadarkannya dari 25 tahun cerita hidup yang seolah dituliskan oleh orang lain. Mikhail menunjukkan kepadanya, tak semua orang bisa mendapat kemewahan untuk memilih, ketika sebagian lain hanya bisa menerima.

Hingga pada pukul sebelas menit kesebelas, Btari dan Mikha sampai pada suatu pembicaraan penting. Pembicaraan tentang diri mereka yang sebenarnya. Tentang bagaimana kemarin, hari ini, dan esok keduanya akan berada.

Resensi

Di bulan Maret 2016, terbit tiga novel dengan judul jam dari Grasindo. Namun, di antara trio 00:00, buku ini, dan 17:17, saya jelas memilih novel seri angka yang ini untuk dibaca terlebih dahulu: Semata-mata karena saya penggemar angka 11. Saya bahkan pernah membuat tulisan “Tentang Sebelas” di Qureta (yang bisa dibaca juga di blog saya ini), saking sukanya dengan angka ini. Tapi jujur saja, thalassemia lolos dari bahasan saya di sana. Namun novel 11:11 pun berhasil mengaitkan 11 dan penyakit yang sifatnya diturunkan dalam keluarga ini.

Berbeda dengan kebanyakan cerita tentang penyakit, novel ini bisa dikatakan penuh optimisme. Kalau saya bandingkan, kira-kira seperti Oasis vs Nirvana di musik rock masa pertengahan 1990-an: Saat kebanyakan buku tentang orang sakit bicara tentang last wishes, perasaan ditolak, kekecewaan yang tiada akhir; buku ini justru “membawa harapan baru” yang tidak biasa.

Konten cerita tentang Btari dan Mikhail sebetulnya mainstream. Teman lama yang bertemu, lalu “terjadilah sesuatu yang diharapkan pembaca sebagai jalan menuju happy ending“. Tapi yang membuat buku ini menarik adalah cara penyampaian kontennya. Karakter terasa lumayan kuat. Btari dengan karakter introvert dan rasa ingin tahunya, dipadukan dengan Mikhail yang berkarakter optimis namun berwawasan luas. Pencirian ini terus ditekankan dari bab ke bab, sehingga sampai setelah cerita berakhir pun, pembaca bakalan masih berangan-angan seperti apakah Btari dan Mikhail, jika sosok mereka nyata.

Soal latar belakang cerita, berbagai sisi kota Malang dibahas habis-habisan sampai komplit sebagai latar lokasi cerita, dan seolah pembaca diajak memasuki lorong waktu bolak-balik. Sebentar ke masa lalu, sebentar ke masa kini dan realitas. Sebagai seorang yang kelahiran Malang, tampaknya inilah cara Rini “menjadi duta” kota Malang dengan caranya sendiri.

Belum lagi cara Rini menyingkap thalassemia dalam cerita, yang menurut saya cukup menarik dan mencetuskan rasa penasaran. Hingga pembaca pun bakalan sulit melepaskan buku ini sekalinya sudah memulai, apalagi setelah menyentuh puncak tema dari buku ini. Setelah saya melewatinya pun, tidak timbul rasa sekadar “oh, begitu doang?”… Melainkan lebih ke, “wah, akhirnya terungkap juga.”… Penasaran? Coba baca sendiri ya 🙂

Dan puncak kesenangan saya adalah ketika menyadari bahwa angka 11 ternyata cukup kuat maknanya dalam kisah ini. Selain jam 11.11 yang menjadi jam ketika pembicaraan penting terjadi, 11 juga berarti lain. Dan angka 11 pun, entah berapa kali muncul, sesuai ekspektasi saya si pecinta angka ini – Hehe :))

Jadi kesimpulannya… Novel 11.11 ini cukup bagus dari segi kekuatan cerita dan tokoh, serta pemilihan judul yang memang tidak sembarangan. Salut untuk Rini.

Kalimat-kalimat Menarik

Ada cukup banyak kalimat menginspirasi yang berasal dari karakter Mikhail, dan rasanya, blurbs dan cukilan quotes belum cukup menggambarkan keindahan kata-kata yang ada dalam buku ini. Saya ambil beberapa contoh di sini.

  • p.2: Sejak lahir, manusia adalah sebuah angka yang tidak ia pilih. Beberapa aktivitas ditakdirkan dikerjakan hanya oleh orang yang memenuhi kriteria tertentu sejak lahir.
  • p.31: Ketidakadilan di dunia ini datang dalam berbagai bentuk.
  • p.66: Apakah nggak sendiri itu sebuah keharusan?
  • p.73: Tapi yang sebenarnya lebih membuat sesak adalah awan pekat itu tidak boleh tampak dari luar.
  • p.138: Akhirnya kamu selalu ingin pulang ke dirimu sendiri karena siapa pun tidak bisa terus singgah dan berkelana.
  • p.144: Tidak semua wanita beruntung bisa menyebut bekerja sebagai pilihan.
  • p.165: Padahal menurutku orang yang sering terjebak kemacetan dan terus kembali lagi lama-kelamaan seharusnya jadi semakin sabar.

Review

  • Saya membacanya dalam bentuk: Fisik
  • 11:11 on Goodreads
  • My Personal Goodreads Rating 4/5

How to get this book

  • Toko buku Gramedia Rp 50.000
  • Gramedia.com Rp 42.000 (belum termasuk ongkos kirim)
Advertisements

My Brief History (Stephen Hawking, 2013)

Identitas Buku

mybriefhistory Title: My Brief History
Author: Stephen Hawking
Publisher: Bantam
Genre: Autobiography/Memoir, History, Science, Physics
Language: English
Publication Date: September 10, 2013
Pages: 126 pages
Cover: Hardcover
ISBN-13: 978-034-553-528-6
Award: Royal Society Winton Prize Nominee for Science Books Longlist (2014)

Sinopsis Official

Stephen Hawking has dazzled readers worldwide with a string of bestsellers exploring the mysteries of the universe. Now, for the first time, perhaps the most brilliant cosmologist of our age turns his gaze inward for a revealing look at his own life and intellectual evolution.

My Brief History recounts Stephen Hawking’s improbable journey, from his postwar London boyhood to his years of international acclaim and celebrity. Lavishly illustrated with rarely seen photographs, this concise, witty, and candid account introduces readers to a Hawking rarely glimpsed in previous books: the inquisitive schoolboy whose classmates nicknamed him Einstein; the jokester who once placed a bet with a colleague over the existence of a particular black hole; and the young husband and father struggling to gain a foothold in the world of physics and cosmology.

Writing with characteristic humility and humor, Hawking opens up about the challenges that confronted him following his diagnosis of ALS at age twenty-one. Tracing his development as a thinker, he explains how the prospect of an early death urged him onward through numerous intellectual breakthroughs, and talks about the genesis of his masterpiece A Brief History of Time—one of the iconic books of the twentieth century.

Clear-eyed, intimate, and wise, My Brief History opens a window for the rest of us into Hawking’s personal cosmos.

Continue reading

The Diving Bell and The Butterfly (Jean-Dominique Bauby, 1998)

Identitas Buku

divingbell

Title: The Diving Bell and The Butterfly (original title: Le Scaphandre et le Papillon)
Author: Jean-Dominique Bauby
Alih bahasa (English): Jeremy Leggatt
Publisher: Vintage
Publication date: June 23, 1998 (original publish date: March 6, 1997)
Pages number: 132 pages
Genre: Autobiography
Language: English (original text: French)
Cover: Softcover
ISBN-13: 978-037-570-121-4

 

Sinopsis Official

In 1995, Jean-Dominique Bauby was the editor-in-chief of French Elle, the father of two young childen, a 44-year-old man known and loved for his wit, his style, and his impassioned approach to life. By the end of the year he was also the victim of a rare kind of stroke to the brainstem.  After 20 days in a coma, Bauby awoke into a body which had all but stopped working: only his left eye functioned, allowing him to see and, by blinking it, to make clear that his mind was unimpaired. Almost miraculously, he was soon able to express himself in the richest detail: dictating a word at a time, blinking to select each letter as the alphabet was recited to him slowly, over and over again. In the same way, he was able eventually to compose this extraordinary book.

By turns wistful, mischievous, angry, and witty, Bauby bears witness to his determination to live as fully in his mind as he had been able to do in his body. He explains the joy, and deep sadness, of seeing his children and of hearing his aged father’s voice on the phone. In magical sequences, he imagines traveling to other places and times and of lying next to the woman he loves. Fed only intravenously, he imagines preparing and tasting the full flavor of delectable dishes. Again and again he returns to an “inexhaustible reservoir of sensations,” keeping in touch with himself and the life around him.

Jean-Dominique Bauby died two days after the French publication of The Diving Bell and the Butterfly.

This book is a lasting testament to his life.

Continue reading

Kubunuh di Sini (Soe Tjen Marching, 2013)

Identitas Buku

kubunuh-disini-front-back

Judul buku: Kubunuh Di Sini
Pengarang: Soe Tjen Marching
Genre: Inspirasi, motivasi, biografi, sosiologi, antropologi
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Terbit: September 2013
Tebal: 262 halaman
ISBN: 9789799106223

Continue reading

Alien Itu Memilihku (Feby Indirani, 2013)

Identitas Buku

Judul buku: Alien Itu Memilihku
Penulis: Feby Indirani
Genre: Biografi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 308 halaman
Terbit: Juni 2014
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-03-0541-7

 

 

 

 

Continue reading