My Blurbs Episode 6: Flashes, flashes

Biasanya saya tidak menggunakan teknik skimming waktu membaca buku nonfiksi, dengan alasan klasik yang sebetulnya kurang masuk akal: Takut kehilangan detail ketika menikmati bacaan nonfiksi. Nah, di My Blurbs kali ini, saya membahas tiga buku nonfiksi yang saya selesaikan dalam waktu yang bisa dikatakan sangat singkat gara-gara saya menggunakan teknik skimming waktu membacanya.

storyofmylife-azka   30-interactive-brain-teaser   bookofanswers-black

Continue reading

a-work-in-progress

A Work in Progress (Connor Franta, 2015)

Identitas Buku

Title: A Work in Progress
Author: Connor Franta
Genre: Autobiography/Memoir, Biography, Motivation
Publication Date: April 21, 2015
Publisher: Atria/Keywords Press
Language: English
Cover: Paperback
Pages: 212 pages
ISBN-13: 978-147-679-161-6
Award: Goodreads Choice Award for Memoir & Autobiography (2015)

Sinopsis Official

In this intimate memoir of life beyond the camera, Connor Franta shares the lessons he has learned on his journey from small-town boy to Internet sensation so far.

Here, Connor offers a look at his Midwestern upbringing as one of four children in the home and one of five in the classroom; his struggles with identity, body image, and sexuality in his teen years; and his decision to finally pursue his creative and artistic passions in his early twenties, setting up his thrilling career as a YouTube personality, philanthropist, entrepreneur, and tastemaker.

Exploring his past with insight and humor, his present with humility, and his future with hope, Connor reveals his private struggles while providing heartfelt words of wisdom for young adults. His words will resonate with anyone coming of age in the digital era, but at the core is a timeless message for people of all ages: don’t be afraid to be yourself and to go after what you truly want.

This full-color collection includes photography and childhood clippings provided by Connor and is a must-have for anyone inspired by his journey.

Resensi

Waktu saya pertama kali melihat cover buku ini, saya bertanya-tanya: Connor Franta itu siapa ya? Maklum, saya bukan tipe orang yang mengisi waktu senggang dengan menonton YouTube. Jadi jangan heran kalau sampai sekarang pun saya masih bingung Connor Franta itu pernah ngapain saja di YouTube.

Tapi saya rasa bukan itu yang penting deh. Yang lebih penting adalah, saya sudah tertarik untuk membaca buku karya Franta yang dirilis pertengahan 2015 lalu itu. Soalnya, waktu dilirik-lirik, buku ini menarik karena banyak fotonya. Kadang-kadang ada foto Franta waktu kecil (yang, saya bingung di mana gendutnya), ada juga foto-foto tangan Franta (yang konon terkenal di Instagramnya itu), dan foto-foto Franta yang sekarang (yang lumayan ganteng). Lalu tidak cuma muka Franta doang. Ada foto-foto pemandangan. Foto-foto hamparan barang dan makanan di meja. Macam-macam, dan semuanya artistik (baca; Nyeni).

Begitu buku ini dimulai, Franta langsung memperkenalkan keluarganya (ayahnya Peter, ibunya Cheryl, saudara-saudaranya Dustin, Nicola, dan Brandon), dan kampung halamannya, La Crescent. Kemudian Franta mendeskripsikan soal lingkungan sekitarnya: Klub renang, sekolah, dan teman-teman dekat. Untuk sebuah autobiografi, rasanya bagian ini memang wajib ada. Jadi saya tidak bisa komentar banyak…

Bagian yang mulai bikin saya tertarik, adalah bab Missing Out, dan selanjut-lanjutnya. Di bab Missing Out, Franta memperkenalkan “penyakit sosial”nya ketika kecil, yaitu takut orang lain bersenang-senang tanpa dirinya. Rasa-rasanya, banyak remaja yang juga punya penyakit sama. Nah, di sinilah Franta mulai membagi jurus-jurusnya dalam menghadapi situasi semacam itu.

Kemudian, ceritanya berlanjut ke masa SMA. Ia mengisahkan bagaimana kegalauan remaja dalam mencari identitas dan menghadapi kemungkinan dipermalukan di depan umum yang cukup tinggi di sekolah. Kegalauan tersebut disampaikan dengan cukup menarik, tanpa kehilangan sentuhan kelucuan khas remajanya; sehingga remaja pun tentu masih bisa menikmati “petuah” dari Franta dengan tepat sasaran. Coba simak bab An Anxious Boy and His Plastic Crown dan The Voice Within. Dua bab ini bisa bikin para pembaca ngakak. Sayangnya, ketika Franta mengungkapkan bagaimana pandangannya terhadap anak-anak nakal di sekolah, saya merasakan ada yang kurang ngeklik. Seperti seolah Franta lagi ngapain, lalu ujug-ujug berkomentar soal itu, dan tiba-tiba melompat lagi ke topik lain. Agak disayangkan, menurut saya.

Eh tapi… Ngakaknya cuma sampai di situ. Selanjutnya Franta jadi lebih serius dan dewasa dalam menuliskan ide-idenya. Seperti contohnya di bab Creativity, Numb to Numbers, dan The Problem with Labels. Di sini dengan cetarnya muncullah beberapa catchphrase yang bisa bikin para penggemar Franta jatuh hati pada caranya memotivasi orang lain. Meskipun pada dasarnya isi motivasi Franta itu hanya di seputar “jadilah diri sendiri dan raihlah apa yang kamu mau”, tapi pemisahan dan pemilahan bab dari Franta ini cukup membuat ide-ide tersebut seolah terpisah-pisah.

Bab yang paling bikin shock, adalah The Long Road to Me. Tentang apakah? Oops, rahasia ya…

Dan bab-bab selanjutnya, buat saya tidak terlalu menarik: di mana Franta mengungkapkan ceritanya tentang menjadi terkenal. Uraian-uraian ini klise, menurut saya, karena rata-rata orang bakal menjawab sama ketika ditanya “apa rasanya jadi terkenal” dan “apa saja deretan kejadian yang membuatmu terkenal”. Ya, bisa dikatakan ending buku ini amat mudah ditebak. Berhubung Franta masih sangat muda – 22 tahun, saat buku ini terbit – rasanya memang autobiografi adalah konsep yang aneh dan barangkali kurang tepat waktunya.

Akhirnya… Buku ini pun selesai. Jadi, saya merekomendasikan buku ini buat dibaca para remaja, khususnya mereka yang berusia sekitar 15-21 tahun (kalau dewasa, barangkali buku ini bakal terkesan terlalu “muda”). Buku ini tidak melulu memiliki konten autobiografi, tetapi juga sarat muatan motivasinya.

Kalimat-kalimat menarik

  • True friendship is counted in memories, experiences, and troubles shared; it’s a bond built up over time in person, not a virtual tally on the Internet.
  • Gender is specific only to your reproductive organs (and sometimes not even to those), not your interests, likes, dislikes, goals, and ambitions.
  • The trap that awaits us all: The importance of being liked.
  • Be numb to numbers. Don’t let the numbers numb you.
  • You are who you are in this given moment. Label-less. Limitless. Remember that from this day forward.
  • Worry is the interest on a debt that may never become payable. I realise how much time I have wasted needlessly worrying about outcomes I can’t control.
  • Don’t be limited by the expectations of others.
  • Hands up if you want to be creative, take the risk, and embrace failure.
  • We have one life—and none of us knows how long our life will be or what will become of it. The possibilities are truly infinite.

Miscellaneous and Ratings

3-star

emotionalblackmail

Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You (Susan Forward-Donna Frazier, 1998)

Identitas Buku

emotionalblackmail

Title: Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You
Authors: Susan Forward, Donna Frazier
Genre: Psychology, Self-Help, Communication, Sociology
Publisher: William Morrow Paperbacks
Publication date: March 4, 1998
Cover: Paperback
Pages: 272 pages
Language: English
Dimension: 5.3 x 0.6 x 8 inches
ISBN-13: 978-006-092-897-1

 

Sinopsis Official

Emotional blackmail is a powerful form of manipulation in which people close to us threaten to punish us for not doing what they want. Emotional blackmailers know how much we value our relationships with them. They know our vulnerabilities and our deepest secrets. They can be our parents or partners, bosses or coworkers, friends or lovers. And no matter how much they care about us, they use this intimate knowledge to win the pay-off they want: our compliance.

In Emotional Blackmail, bestselling author Susan Forward dissects the anatomy of a relationship damaged by manipulation to give blackmail targets the tools they need to fight back. In a clear, no-nonsense style, she outlines the specific steps readers can take, offering checklists, practice scenarios, and concrete communications techniques that will strengthen relationships and break the blackmail cycle for good.

Continue reading

My Blurbs Episode 5: Devilish Things

My Blurbs kembali di episode 5! Kali ini, saya akan membahas secara singkat tiga buku yang sama-sama memuat konsep “jahat”. Yang pertama adalah buku yang mengulas bagaimana otak kita menciptakan persepsi “ini orang jahat” atau “ini orang baik”. Yang kedua, tentang bagaimana “kejamnya” orang tua sukses mendidik anaknya agar lebih sukses daripada dirinya. Dan yang ketiga, bagaimana masyarakat berespons terhadap jahatnya kenyataan lewat enam kata, yang dirangkum menjadi satu buku.

iweartheblackhat   battlehymntigermother   notquitewhatIwasplanning

Continue reading

divingbell

The Diving Bell and The Butterfly (Jean-Dominique Bauby, 1998)

Identitas Buku

divingbell

Title: The Diving Bell and The Butterfly (original title: Le Scaphandre et le Papillon)
Author: Jean-Dominique Bauby
Alih bahasa (English): Jeremy Leggatt
Publisher: Vintage
Publication date: June 23, 1998 (original publish date: March 6, 1997)
Pages number: 132 pages
Genre: Autobiography
Language: English (original text: French)
Cover: Softcover
ISBN-13: 978-037-570-121-4

 

Sinopsis Official

In 1995, Jean-Dominique Bauby was the editor-in-chief of French Elle, the father of two young childen, a 44-year-old man known and loved for his wit, his style, and his impassioned approach to life. By the end of the year he was also the victim of a rare kind of stroke to the brainstem.  After 20 days in a coma, Bauby awoke into a body which had all but stopped working: only his left eye functioned, allowing him to see and, by blinking it, to make clear that his mind was unimpaired. Almost miraculously, he was soon able to express himself in the richest detail: dictating a word at a time, blinking to select each letter as the alphabet was recited to him slowly, over and over again. In the same way, he was able eventually to compose this extraordinary book.

By turns wistful, mischievous, angry, and witty, Bauby bears witness to his determination to live as fully in his mind as he had been able to do in his body. He explains the joy, and deep sadness, of seeing his children and of hearing his aged father’s voice on the phone. In magical sequences, he imagines traveling to other places and times and of lying next to the woman he loves. Fed only intravenously, he imagines preparing and tasting the full flavor of delectable dishes. Again and again he returns to an “inexhaustible reservoir of sensations,” keeping in touch with himself and the life around him.

Jean-Dominique Bauby died two days after the French publication of The Diving Bell and the Butterfly.

This book is a lasting testament to his life.

Continue reading

Sabtu Bersama Bapak (Adhitya Mulya, 2014)

Identitas Buku

sabtu-bersama-bapak

Judul buku: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: GagasMedia
Genre: Fiksi, inspirasi
Tebal: 288 halaman
Ukuran: 13 cm x 19 cm
Bahasa: Indonesia
Terbit: 11 Juni 2014
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-979-780-721-4

 

Sinopsis Official

Video mulai berputar.

Hai Satya! Hai Cakra!sang Bapak melambaikan tangan.
Ini Bapak. Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.

Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.

—-

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Continue reading

7b190-alien-itu-memilihku

Alien Itu Memilihku (Feby Indirani, 2013)

Identitas Buku

Judul buku: Alien Itu Memilihku
Penulis: Feby Indirani
Genre: Biografi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ukuran: 13.5 x 20 cm
Tebal: 308 halaman
Terbit: Juni 2014
Cover: Softcover
ISBN: 978-602-03-0541-7

 

 

 

 

Continue reading