Curriculum Vitae (Benny Arnas, 2017)

Identitas Buku

Judul: Curriculum Vitae
Judul Alternatif: Curriculum Vitae: Seratus Enam Urusan, Sembilan Puluh Perumpamaan, Sebelas Tokoh, Sepasang Kegembiraan
Penulis: Benny Arnas
Terbit: 13 Maret 2017
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Paperback
Genre: Fiksi Umum
Bahasa: Bahasa Indonesia
Tebal: 223 halaman
ISBN-13: 978-602-033-583-4
Penghargaan: Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016, Pemenang Unggulan

Sinopsis Official

Sebuah benda bermassa 4000 kilogram akan diletakkan di atas gunung yang kemiringan tebingnya mencapai 59° dengan cara dilempar oleh tangan kananmu yang malam tadi baru saja menyeduhkan teh-melati selama-5-menit untukku. Ini bukan perkara seberapa cepat lesatan lemparanmu sebab kamu pernah bilang, “Jarak dan waktu itu tempat tinggalnya bukan di peta, tapi di kepala dan di sini!” (Kau menepuk dada kirimu berkali-kali. Dokter bilang itu tempat tinggal jantung, tentu saja aku bilang itu hati).

Perkaranya seberapa kuat aku akan menanggung beban rindu yang mengganggu, sedangkan di saat yang sama dengan air muka senewen ibuku bilang kalau pesanan kelapa dari luar kota sudah menumpuk (What! Ibu, tidakkah bisa kau bayangkan, seorang pencinta yang galau tengah memetik kelapa dengan air mata yang leleh dan masa lalu yang mencabik-cabik di punggung?). Bunuh saja anakmu ini, Bu! Bunuh!

Continue reading

Catatan Najwa (Najwa Shihab, 2016)

Identitas Buku

Title: Catatan Najwa
Author: Najwa Shihab
Published: November 20, 2016
Publisher: Literati
Cover: Paperback
Genre: Politics/Social
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 208 pages
ISBN-13: 987-602-874-0586

Sinopsis Official

Catatan Najwa berisi refleksi Najwa Shihab atas isu yang dibahas di program Mata Najwa. Dengan gaya rima yang khas, Catatan Najwa menggelitik dengan sindiran, menohok tajam, kadang seperti ajakan merenung. Inilah narasi-narasi terbaik Mata Najwa yang akan terus relevan dibaca kapan pun.

Selama para pejabat menghamba harta benda, negara akan terus jadi sapi perah penguasa. Saham kosong dan proyek tersedia, begitulah kisah pejabat negara merendahkan dirinya. (PEJABAT PEMBURU RENTE, hlm. 104)

Rakyat perlu para penegak yang berwibawa, bekerja demi keadilan dengan bangga. Karena kita tak membayar seragam mereka, hanya untuk menegakkan hukum rimba. (HUKUMAN SALAH ALAMAT, hlm. 115)

Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk? Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, jika hanya perkaya diri dan sanak-famili? (DARI JOGJA UNTUK BANGSA, hlm. 159)

***

Joko Pinurbo (Sastrawan)
“Ketika ayat-ayat Najwa dibukukan, kita dapat melihat kembali peta persoalan yang menghiasi tubuh bangsa ini.”

KH. Mustofa Bisri (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin)
“Mata Najwa, Mata Batin Kita.”

Reza Rahadian (Aktor)
“Narasi seorang Najwa mampu membuat kita terkesima. Kita terpancing untuk mencerna dan memikirkan lebih saksama. Ini tak sekadar goresan kata-kata. Ini adalah keteguhan sikap dan kejelian mengolah kata dan rasa.”

Sujiwo Tejo (Dalang)
“Indonesia tanpa Pancasila kehilangan dasar, Indonesia tanpa Mata Najwa kehilangan pandangan.”

Surya Paloh (Chairman Media Group)
“Metro TV lahir dengan misi mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan di sini jejak langkah Najwa bermula. Inilah cara Metro TV mendidik jurnalisnya. Membangun integritas tanpa batas.”

Wishnutama Kusubandio (CEO NET Mediatama Televisi)
“Menonton Mata Najwa bagi saya bukan hanya menambah value, wawasan dan hiburan, tetapi juga memberi semangat kepada diri saya sendiri dalam berkarya.”

Continue reading

Tiada minat membaca untuk mengonfirmasi ketiadaan minat baca: Perspektif Hari Buku Nasional

Minat baca yang rendah di Indonesia, mungkin adalah salah saya. Saya sempat lama tidak membaca buku, baru mulai aktif lagi di 2014.

Minat baca yang rendah di Indonesia, mungkin adalah salah lingkungan saya. Tidak ada yang suka membaca di sekitar sini. Bahkan, membaca dianggap aktivitas membosankan yang hanya dilakukan orang-orang tidak ada kerjaan.

Minat baca yang rendah di Indonesia, mungkin adalah salah guru-guru saya. Dulu mereka mencekoki apa saja tanpa menyuruh kita mencari tahu teka-teki di luar buku teks. Jadi baca materi dari mereka saja, beres. Tidak perlu baca yang lain.

Minat baca yang rendah di Indonesia, sebetulnya salah siapa?

Continue reading