Big Bad Wolf Book Sale Jakarta 2016: Catatan tanpa Foto di Akhir Masa Promo

Rasanya sudah ada banyak sekali liputan, tulisan, dan artikel yang membahas soal bazaar buku bertajuk Big Bad Wolf Book Sale Jakarta, yang berlangsung pada 30 April hingga 9 Mei mendatang (ya, 9 Mei. Nanti saya jelaskan).

poster-02

Saya sendiri, baru menuliskan postingan ini di tanggal 7 Mei malam. Berarti ketika kalian membacanya, hanya tersisa sekitar 48 jam untuk menikmati pameran buku impor yang cukup besar ini. Belum lagi, postingan saya ini tidak ada fotonya – karena saya udah kelabakan sendiri di sana, dan tidak sempat foto-foto!

Ya sudah, daripada kalian keburu mengantuk, mari kita mulai saja.

Continue reading

Advertisements

A Copy of My Mind (Dewi Kharisma Michellia, 2016)

Identitas Buku

a-copy-of-my-mindJudul: A Copy of My Mind
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
Genre: Fiksi, drama, adaptasi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 4 April 2016
Tebal: 199 halaman
Cover: Paperback
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-602-375-401-4

Sinopsis Official

Sari, pegawai salon kecantikan, adalah seorang pencandu film. Ia bertemu Alek—si penerjemah DVD bajakan—saat Sari mengeluh tentang buruknya kualitas teks terjemahan di pelapak DVD.

Tak butuh waktu lama hingga keduanya saling jatuh cinta. Sari dan Alek melebur di antara riuh dan bisingnya Ibu Kota. Cinta membuat keduanya merasa begitu hidup di tengah impitan dan kerasnya Jakarta.

Namun, hidup keduanya berubah ketika Sari ditugaskan untuk memberi perawatan wajah seorang narapidana. Ia diutus pergi ke rutan tempat Bu Mirna—terdakwa kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara—ditahan. Rutan itu berbeda dari rutan pada umumnya. Di sana Sari melihat penjara yang fasilitasnya bahkan lebih baik dari kamar indekosnya.

Sari dan Alek terlambat menyadari bahaya sedang mengancam nyawa keduanya, saat Sari secara sengaja mengambil satu keping DVD dari rumah tahanan Bu Mirna.

Resensi (with minor spoiler alert)

Buku sudah sering diadaptasi jadi film. Tapi kalau film best-seller diadaptasi jadi buku? Dan jadilah, ini pengalaman pertama saya membaca buku yang diadaptasi dari film.

Mungkin saya bahas sedikit dulu soal film yang menjadi sumber adaptasi buku ini. A Copy of My Mind versi film, disutradarai Joko Anwar dan dibintangi duet Chicco Jericho-Tara Basro, adalah peraih tiga Piala Citra di Festival Film Indonesia 2015. Berbeda dengan film berlatar Jakarta pada umumnya, film ini justru mengangkat potret masyarakat menengah ke bawah yang hidup di tengah himpitan berbagai masalah di ibukota; tanpa sedikitpun sentuhan sisi glamor darinya. Film yang konon hanya berbudget IDR 250 juta-an ini ternyata sukses di negeri-negeri tetangga terlebih dahulu. Setelah itulah baru film ini dirilis di Indonesia pada Februari 2016.

Meskipun katanya memang berkualitas dan unik, saya sendiri belum menyaksikan film yang satu ini, karena alasan pribadi yang lebih baik jangan saya sebutkan. Namun, karena begitu banyak orang yang bilang film ini unik buat perfilman Indonesia, maka ketika saya mendengar Grasindo akan menerbitkan versi bukunya, saya langsung menaruh ekspektasi tinggi, bahwa bukunya juga akan bagus. Walaupun saya tidak sampai ikutan preorder dan hanya menunggu “momen diskon” dari Scoop, ternyata “pilihan” saya untuk mulai dengan bukunya dan bukan dengan filmnya, sama sekali tidak keliru. Karena saya cukup menikmati buku yang mendebarkan ini!

Fakta bahwa saya menyukai novel adaptasi film yang tidak terlalu tebal ini, adalah sesuatu yang amat tumben terjadi buat saya atas sebuah novel lokal. Sejak halaman pertama, penulis sudah menyampaikan sisi gelap ibukota yang kerap dirasakan sebagian besar lapisan penghuni kota yang konon lebih kejam daripada ibu tiri ini. Dengan suguhan kalimat-kalimat menarik, yang bernada satir tetapi realistis, pembaca (terutama yang hidup di Jakarta) pasti langsung dibuat terpikat dengan premis “pembenaran kaum menengah ke bawah atas kekejaman dan kesenjangan sosial”. Memang agak sinetron, namun begitulah cara pikir sebagian besar warga Jakarta. Karenanya, untuk sekilas, saya merasa buku ini mirip dengan pembuka cerita di film Selamat Pagi, Malam (2014) (yang celakanya juga, belum sempat saya tonton akibat film ini berumur terlalu singkat di bioskop).

Hingga ke tengah, saya merasa alur buku ini lambat. Cerita ketertarikan satu sama lain antara Sari dan Alek, kedua karakter utama kisah ini, dibuat alamiah dan tidak terburu-buru, namun menurut saya malah terlalu pelan dan tidak membangkitkan rasa penasaran penonton, bahkan ketika buku ini sudah melewati 60% bagiannya. Makanya, saya masih bisa meninggalkan buku di halaman 128 tanpa rasa mati penasaran dengan ending cerita yang konon ada di 190-an.

Buku ini diawali dengan latar belakang kehidupan Sari, si pegawai salon kecantikan yang kerap merasa bosan namun mengimpikan home theatre, diceritakan bergantian dengan latar belakang hidup Alek, pria tanpa identitas yang terjebak dalam kehidupan ala preman ibukota namun memilih bekerja sebagai pembuat teks untuk keping film-film bajakan.

Hubungan keduanya dimulai ketika Sari mengamuk ke sebuah lapak penjual DVD bajakan akibat teks film yang ia beli ternyata kacau balau, dan di situlah ia bertemu Alek. Kemudian, entah bagaimana mereka saling mengakui minat film masing-masing, dan mereka mulai merasakan ada kecocokan satu sama lain.

Diskusi film di antara mereka, ketika mereka “membangun hubungan”, pun cukup menarik. Jenis-jenis film yang dibahas pun sukses bikin saya bingung lantaran saya bukan penggila film. Satu-satunya film yang mereka sebut dan saya paham (karena sudah pernah ditonton), hanya My Blueberry Nights – film 2007 karya Wong Kar-Wai, yang agak membikin ngantuk dan setengah absurd itu (Coba googling sendiri ya).

Jangan kaget ketika memasuki halaman 100-an, buku ini justru menonjolkan seks bebas dan krisis identitas sebagai perihal utama yang mengudara. Semacam kritik sosial yang cukup pas tekanannya. Meskipun di halaman-halaman sebelumnya hubungan Sari dan Alek terkadang diwarnai kelucuan, tetapi bagian ini menunjukkan keseriusan mereka dan memperlihatkan bagaimana rasa di antara mereka mulai terbangun. Biasa saja dari segi plot, tetapi cukup kuat dari karakterisasi.

Tetapi ketika saya memasuki 25% terakhir dari buku ini, saya mulai merasakan plot intens yang mulai dengan cepat menuju klimaks. Pertemuan Sari dengan Bu Mirna, dengan cepat menggulirkan sebuah masalah besar yang tak bisa diperkirakan bagaimana akhirnya. Saya juga penasaran sekali bagaimanakah polemik ini akan dikunci dan diketok palunya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Wong halamannya tinggal dikit, gimana cara konflik begini mau dikunci?

Dan… Ternyata, oh ternyata… Tiga bab terakhir dituliskan singkat, dan cerita pun bergulir dengan sangat cepat, sampai-sampai tanpa tersadar bukunya sudah habis! Uh-oh. Berhubung saya membaca dengan otak setengah kosong, saya harus membaca ulang agar tidak missed. Ketika saya mencocokkan ending cerita versi buku dan versi film, ternyata sama. Dan saya berkesimpulan bahwa ending cerita ini, secara umum memang aneh. Pendekatan ending seperti ini, rasa-rasanya belum pernah ada di film-film Indonesia, meskipun saya sudah beberapa kali menemukan film-film luar yang menggunakan cara pendekatan sama.

Nah, seperti apa ending kisah ini? Atau film Hollywood manakah yang ending-nya seperti kisah ini? Saya tidak mau bahas di sini ya. Lebih baik kalian baca sendiri buku ini dan cari tahu sendiri cerita ini mirip film apa – kalau saya ceritakan di sini, nanti keseruannya hilang dan kalian jadi tidak mau baca bukunya. Lalu saya digampar penulis dan Bang Joko. Kabuuurrr…

Balik ke topik. Justru, keengganan Joko mengakhiri cerita dengan memberi pemanis di atas kue seperti lazimnya cerita film Indonesia, dan memilih konsisten menggeber kepahitan dari awal sampai akhir inilah, yang menjadi ciri sekaligus kekuatan dari film A Copy of My Mind. Demikian pula bukunya, tetap menarik dan mendebarkan hingga akhir.

Jadi kesimpulannya? Highly recommended story to enjoy! Terserah mau versi film atau buku, toh memang pada dasarnya cerita ini menarik untuk disimak.

Kalimat-kalimat menarik

  • p.16: Cerdas sekaligus jujur adalah kriteria penghuni surga. Di dunia, tak pernah ada yang sesempurna itu.
  • p.31: Membayangkan Budhe yang sepuh itu meninggal karena tinju-tinjuan sama pencuri untuk berebut TV bikin gue jarang berani keluar rumah lama-lama.
  • p.63: Ini kunci bahagia berikutnya: Kebisingan jalanan selalu bisa ditandingi gemuruh musik.
  • p.63: Percayalah, membisiki diri sendiri bisa membuat daya tahan lu lebih kuat dibandingkan menenggak minuman penambah stamina.
  • p.65: Kenapa manusia mencari rasa aman?
  • p.70: Lu kalau mau cari yang bagus, ya cari yang asli lah.
  • p.98: Dia bisa jadi ibu yang baik untuk mengkaderisasi anak jadi gila film juga.
  • p.115: Kata orang, pemenang adalah yang tertawa terakhir. Kamu akan tertawa terakhir kalau kamu tertawa terus. Jadi, kita memang harus tertawa, dan sering-sering tertawa, biar kita menang atas hidup.
  • p.180: Tapi sewaktu lu menjalani hidup, lu enggak akan pernah tahu bagian mana yang jadi awal dan akhir. Lu enggak tahu siapa yang jadi tokoh utama dan tokoh sampingan.

Review

  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital, Scoop
  • A Copy of My Mind on Goodreads
  • My personal Goodreads rating 4/5

How to get this book

  • Toko buku Gramedia: Rp 50.000
  • Gramedia.com: Rp 42.500 (belum termasuk ongkos kirim)
  • Scoop Rp 31.200 (digital version only)

Bokis 2: Potret Para Pesohor, dari yang Getir sampai yang Kotor (Maman Suherman, 2013)

Identitas Buku

bokis-2

Judul: Bokis 2: Potret Para Pesohor, dari yang Getir sampai yang Kotor
Penulis: Maman Suherman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Genre: Non-fiksi, entertainment
Bahasa: Indonesia
Terbit: 24 Mei 2013
Tebal: 151 halaman
Cover: Paperback
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-979-910-585-1

 

Sinopsis Official

Dunia hiburan Indonesia tidak hanya menyimpan cerita serba gemerlap dan glamor, tapi juga kisah getir dan penuh tipu-tipu.

Bagaimana demi popularitas orang rela mengorbankan bukan hanya seluruh harta, tapi juga harga diri bahkan organ tubuhnya? Atau, orangtua yang mau melakukan apapun agar sang anak tampil di panggung hiburan? Juga, bagaimana pihak-pihak yang berkuasa ikut menentukan dan tampil sebagai pemenang dalam dunia yang karut-marut seperti itu?

Maman Suherman, jurnalis infotainmen kawakan yang punya hubungan luas di kalangan pesohor, menyingkap betapa eratnya harta, seks, dan kekuasaan dalam dunia hiburan kita.

Resensi

Masih tak jauh dari buku pertamanya, Kang Maman Suherman dengan karikatur plontos khasnya kembali hadir di cover buku sekuel Bokis ini di tahun 2013. Temanya pun masih serupa, seputar dunia entertainment lokal.

Kalau di buku pertama subjudulnya adalah “kisah gelap dunia seleb”, buku kedua ini mengangkat subjudul “potret para pesohor, dari yang getir sampai yang kotor”. Jangan keburu berpikir bahwa buku pertama hanya berisi orang-orang yang mau jadi terkenal dan menghalalkan segala cara, dan buku kedua hanya berisi para pesohor. Sebetulnya isi kedua buku ini mirip-mirip, yaitu campuran dari keduanya sekaligus, dalam porsinya masing-masing. Tema yang diangkat juga masih punya judul utama yang sama, yaitu soal “did you know what lies behind the scene?”-nya dunia hiburan Indonesia.

Karena saya (masih) tidak tertarik dengan dunia entertainment lokal dan paling malas mengikuti infotainment, saya pun tak bisa menebak nyaris semua selebriti yang ada di buku ini, kecuali satu: Selebriti yang ada di bab Jantungan (saya maklum saja, karena deskripsi apapun rasanya tak bisa menutupi identitas selebriti yang sikapnya paling khas sejagat Indonesia ini). Alhasil, saya kebingungan karena buku ini semakin penuh dengan kata ganti “selebriti muda”, “desainer muda”, “aktor tampan”, dan semacam itu. Barangkali, jika kalian adalah penikmat hiburan Indonesia, kalian bisa dengan mudah menebak siapa saja pesohor yang disebut-sebut Kang Maman. Tapi, serba salah juga sih. Kalau nama asli selebnya dipasang, nanti pencemaran nama baik, repot lagi lah nasib buku ini. Bisa kena bredel seperti zaman 1990-an. Kan sayang!

Baiklah… Inilah garis besar isi buku ini. Semoga tidak membuka terlalu banyak rahasia.

  1. Jual hingga tak tersisa: Bisa ditebak, apa isi bab ini. Sebagian adalah semacam deja vu dengan buku pertama. Sebagian lagi kisah baru.
  2. Seks, seks, seks… Uang, uang, uang: Lagi-lagi masalah esek-esek yang dibalas pakai duit. Bab ini mengungkap fakta di balik layanan plus-plus kelas premium yang kerap berputar di kalangan selebritis. Coba baca “Pro Bono tapi Ditiduri”. Artikel ini lumayan bikin “tersentuh” dengan caranya sendiri. Juga artikel “Serba-serbi Gratifikasi Seks” yang lengkap sekali.
  3. TV… Oh, TV…: Inilah kupasan tuntas soal behind the scene-nya penayangan acara-acara di televisi, mulai dari acara yang biasa saja (berita) hingga acara reality yang aneh bin ajaib. Kembali, hal-hal tak terduga muncul pula di bab ini. Mau yang benar-benar bikin kaget? Baca “Pemeran Pengganti di Acara xxx”. Wow!
  4. Jurnalis Oh, Jurnalis: Bab ini mirip dengan bab TV Oh TV tapi yang dibahas adalah dari sisi si jurnalisnya (sementara bab TV Oh TV meninjau sisi selebritinya).

 

Bokis babak dua ini juga ditambah beberapa kisah tentang orang biasa yang ingin jadi selebriti dan berani mengorbankan segala-galanya, plus lebih banyak membahas selebriti yang mau berbuat apa saja supaya tetap ada di berita-berita. Secara umum, buku ini memang semenarik buku pertama. Sayangnya, ada beberapa cerita (lumayan banyak) yang agak mengulang-ulang dari buku pertamanya. Sehingga setelah membaca buku kedua ini (saya baru membaca buku pertamanya dua hari yang lalu), saya langsung banyak lupa dengan isi buku yang kedua. Tapi bukan berarti saya bilang buku kedua ini jelek, lho. Secara garis besar buku kedua ini sama saja dengan buku pertamanya: Kalau kalian suka buku pertamanya, pasti suka juga dengan buku keduanya. Demikian pula kalau kalian tidak suka.

Berarti? Tentu saja, buku Bokis babak kedua ini pun tetap cocok untuk jadi sumber pembelajaran tentang kejamnya belantara selebriti dan dunia entertainment itu sendiri. Beragam tindak tanduk dan sebab akibat, ada saja yang bisa terjadi. Kadang sesuai prediksi, kadang pula di luar dugaan.

Pokoknya seru!

 

Kalimat-kalimat menarik

  • p.x: “Orang-orang harus dibangunkan. Kenyataan harus dikabarkan. Aku menulis menjadi saksi.”
  • p.48: “Banyak yang menyamaratakan, menganggap kami semua bisa di-booking!”
  • p.81: Tapi, kalau berakhir dengan kematian, Tuhan yang disalahkan.
  • p.111: “Anda siapa, ya? Saya tidak kenal?”
  • p.137: “Sudah-sudah jangan iri. Kalau mau seperti mereka, ya sana tulis berita bohong, terima amplop!”

Review

3-star

How to get this book

 

Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb (Maman Suherman, 2012)

Identitas Buku

bokis-kisah-gelap-dunia-seleb

Judul: Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb
Penulis: Maman Suherman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Genre: Non-fiksi, entertainment
Bahasa: Indonesia
Terbit: 14 September 2012
Tebal: 124 halaman
Cover: Paperback
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-979-910-496-0

 

Sinopsis Official

Dengan empati dan rasa humornya, Maman Suherman, seorang jurnalis infotainment kawakan, menyingkap kisah mencengangkan, menyedihkan, bahkan cerita konyol di balik gegap gempita panggung hiburan Indonesia. Siapa sangka orangtua menghalalkan segala cara demi popularitas anaknya? Anda yakin suara penyanyi yang Anda dengar adalah suaranya sendiri? Bagaimana pula seorang jurnalis menghadapi rayuan manis narasumbernya? Dalam 33 artikel yang ditulisnya dengan gaya santai dan kocak di buku ini, kita akan diajak menatap apa yang selama ini tidak kita lihat dan menyimak apa yang belum pernah kita dengar.

“Di balik gemerlap dunia infotainment tersembunyi aneka kisah menyesakkan calon artis dan keluarganya. Di tengah industri hiburan media yang masif, terjadi persekongkolan agen artis, biro iklan, pejabat, politisi, sang artis, termasuk wartawan. Semuanya dikupas cerdas oleh Maman Suherman.”
Eko Maryadi, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

“Buku ini bisa dinikmati dalam berbagai perspektif. Bokis bisa menghibur karena penuh dengan anekdot lucu dan persepsi orisinal, tapi juga bisa menambah ilmu, karena tanpa disadari pembaca, Maman Suherman tidak per nah lepas dari intelektualitasnya sebagai sarjana sosial. Dalam karier yang penuh warna, kedua sifat Maman Suherman selalu bersandingan. Entertaining, analytical.”
Wimar Witoelar

“Menghadapi seorang ibu yang menjual anaknya agar menjadi selebriti mungkin hal biasa bagi sebagian orang dalam dunia hiburan. Namun, bagaimana Maman mengendalikan diri untuk tidak mudah menjual profesionalismenya belum tentu dapat dilakukan jurnalis media hiburan lainnya. Begitu juga ketika Maman memutuskan untuk tidak menggunakan video aborsi artis muda sebagai bahan berita. Keputusan yang menurut saya sangat meng harukan.”
Ezki Suyanto, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia

“… terbius dan tercengang….”
Donna Agnesia, Artis

“Beranikah kita menatap cermin ini?”
Sakdiyah Ma’ruf, Feminis

Continue reading

Shit Happens: Gue yang Ogah Kawin, Kok Elo yang Rese? (Christian Simamora & Windy Ariestanty, 2007)

Identitas Buku

Screen Shot 2016-02-18 at 16.12.44

Judul: Shit Happens: Gue yang Ogah Kawin, Kok Elo yang Rese?
Penulis: Christian Simamora & Windy Ariestanty
Terbit: Oktober 2007
Penerbit: GagasMedia
Genre: Fiksi, romance, comedy
Bahasa: Indonesia
Ukuran: 11.5 cm x 19 cm
Tebal: 310 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-979-780-171-7

 

Sinopsis Official

Shit does happen in their life. But, still, life must goes on….

Lula, Sebastian, dan Langit. Tiga orang lajang yang hidup di kota besar bernama Jakarta dengan profesi berbeda. Jurnalis, penulis, dan editor. Love their life much, so damn proud of themselves, boast their freedom of life as an individual.

…‘till one question ruins their [un]perfect life.

Lula : I have a good job, I’m pretty, and, believe me, I’m not an airhead Paris-Hilton-like girl. I’m all what men need. Tapi, kenapa nggak ada cincin di jari manis gue?

Sebastian : Mangoli (nikah)… cuma itu yang ada di pikiran Mama akhir-akhir ini. Katanya, menikah itu sumber kebahagiaan. Talk to yourself, Mom. Your marriage isn’t a picture of a happy life. Kenapa sih terus-terusan maksa aku nyari calon parumaen (menantu) dan menikah secepatnya?

Langit : We were a perfect couple. ‘till, I found his affair. Then, he left me. He chose his latest partner, not me. This is my question. WHY?

So, this is not a story about perfect life. They just try HARD to make it perfect.

Continue reading

Tuan Besar (Threes Emir, 2012)

Identitas Buku

tuanbesar

Judul buku: Tuan Besar – kisah para lelaki metropolitan
Penulis: Threes Emir
Genre: Fiksi, metropop
Bahasa: Indonesia
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal: 256 halaman
Terbit: April 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-228-427-0

Sinopsis Official

Siapakah yang layak disebut atau menyebut dirinya Tuan Besar? Rasanya siapa pun boleh karena banyak sekali tipe Tuan Besar.

Ada Tuan Besar yang masya Allah beratnya 95 kg gara-gara tidak bisa mengontrol makanan. Ada juga Tuan Besar yang tidak senang bergaul dengan yang seumurnya tetapi memilih yang berumur dua puluhan. Bahkan ada pula yang sudah merasa menjadi Tuan Besar, walaupun pada kenyataannya belum.

Jangan heran, ada pula Tuan Besar yang cepat terbuai rayuan dan baru menyadarinya setelah segalanya terlambat. Namun, ada juga Tuan Besar yang cintanya pada pasangannya sungguh mengharukan dan patut ditiru.

Ah, jangan-jangan Anda salah satu dari Tuan Besar yang ada di buku ini!

Continue reading

Penumpang Gelap – Menembus Eropa Tanpa Uang (Alijullah Hasan Jusuf, 2015)

Identitas Buku

penumpanggelapJudul buku: Penumpang Gelap – Menembus Eropa tanpa Uang (Judul alternatif: Penumpang Gelap – Jakarta-Paris lewat Amsterdam)
Penulis: Alijullah Hasan Jusuf
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Genre: Biografi
Ukuran: 17 x 25 cm
Tebal: 320 halaman
Terbit: 12 Oktober 2015
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-70-9978-7

Sinopsis Official

April 1967, kehidupan Alijullah Hasan Jusuf seorang diri di Jakarta bermula. Di tengah situasi Ibu Kota yang tidak menentu dengan gelombang demonstrasi di sana-sini, bocah asli Sigli ini harus bertahan hidup dengan menjadi penjaja koran di kaki lima, mengikuti demonstrasi pelajar, bahkan tinggal di peti rokok. Namun, ketika deru suara pesawat terbang dari Bandar Udara Kemayoran didengarnya setiap malam, Alijullah pun membangun mimpi baru: terbang jauh ke luar negeri… 

Continue reading