The Man Who Knew Infinity (film 2015)

Identitas Film

Censor rating: PG-13
Duration: 108 minutes
Language: English
Release date: April 29, 2016
Genre: Biography, Drama
IMDb rating: 7.5/10
Metacritic score: 56/100
Rotten Tomatoes Tomatometer: 62%
Director: Matt Brown
Casts: Dev Patel, Jeremy Irons, Malcolm Sinclair, Devika Bhise, Toby Jones, Raghuvir Joshi

Sinopsis Official

The story of the life and academic career of the pioneer Indian mathematician, Srinivasa Ramanujan, and his friendship with his mentor, Professor G.H. Hardy.

Continue reading

My Blurbs Episode 6: Flashes, flashes

Biasanya saya tidak menggunakan teknik skimming waktu membaca buku nonfiksi, dengan alasan klasik yang sebetulnya kurang masuk akal: Takut kehilangan detail ketika menikmati bacaan nonfiksi. Nah, di My Blurbs kali ini, saya membahas tiga buku nonfiksi yang saya selesaikan dalam waktu yang bisa dikatakan sangat singkat gara-gara saya menggunakan teknik skimming waktu membacanya.

storyofmylife-azka   30-interactive-brain-teaser   bookofanswers-black

Continue reading

From Zero to Infinity – What Makes Numbers Interesting (Constance Bowman Reid, 2006)

Identitas Buku

fromzerotoinfinity-constancereid

Original Title: From Zero to Infinity – What Makes Numbers Interesting
Author: Constance Bowman Reid
Publisher: AK Peters
Genre: Science, Mathematics
Language: English
Publication Date: February 17, 2006
Number of pages: 188 pages
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-156-881-273-1

Sinopsis Official

From Zero to Infinity is a combination of number lore, number history, and sparkling descriptions of the simply stated, but exceedingly difficult problems posed by the most ordinary numbers that first appeared in 1955, and has been kept in print continuously ever since. With the fifth edition, this classic has been updated to report on advances in number theory over the last 50 years, including the proof of Fermat’s Last Theorem. Deceptively simple in style and structure, it is a book to which the reader will return again and again, gaining greater understanding and satisfaction with each reading.

Continue reading

My Blurbs Episode 1: And The Blurbs Began…

Catatan:

My Blurbs adalah tempat di mana saya akan share review tentang buku nonfiksi yang pernah saya baca, tetapi entah karena memang tak bisa direview panjang, karena bukunya sudah hilang, karena sudah terlalu lama, atau karena saya tidak terlalu setuju dengan isinya; maka hanya saya tampilkan dalam bentuk review pendek. Satu episode My Blurbs akan memuat tiga buku non-fiksi, dari berbagai subgenre. Dan buku-buku yang saya bahas di sini pun, akan saya masukkan ke dalam indeks.

Di My Blurbs edisi perdana ini, saya akan menyajikan tiga buku. Buku pertama mengulas riwayat singkat Blackberry dan Research in Motion. Buku kedua disajikan khusus buat penggemar teka-teki matematika. Dan buku ketiga adalah biografi salah satu musisi ternama Indonesia yang masa akhir hidupnya diwarnai derita dan duka menghadapi kanker.

Selamat menikmati!

losingthesignal mathjamboreebolt lastwordschrisye

Continue reading

Teka-Teki Terakhir (Annisa Ihsani, 2014)

Identitas Buku

tekatekiterakhir

Judul buku: Teka-Teki Terakhir
Penulis: Annisa Ihsani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiksi, teenlit
Tebal: 256 halaman
Ukuran: 14 cm x 20 cm
Bahasa: Indonesia
Terbit: 27 Maret 2014
Cover: Massmarket Paperback
ISBN-13: 978-602-030-298-0

Sinopsis Official

Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya…

Resensi (plus agak spoiler)

Pertanyaan matematika berumur tiga abad yang belum terpecahkan di tahun 1992? Pasti Fermat’s Last Theorem! Lalu bagaimana ceritanya seorang penulis bisa membuat cerita fiksi berdasarkan fakta tersebut?

Inilah yang menurut saya, menjadi daya tarik dari novel Teka-Teki Terakhir ini.

Fermat’s Last Theorem merupakan salah satu pernyataan dalam matematika yang cukup membuat penasaran, karena menurut Fermat (ini ahli matematika Prancis) sendiri, ia ia sudah punya bukti, tetapi tepi bukunya tidak muat baginya untuk menuliskan bukti tersebut hingga tuntas”. Dan alhasil setelah Fermat meninggal pun tidak jelas di mana Fermat menaruh kertas pembuktiannya itu. Anehnya berabad-abad kemudian, tak seorang ahli matematika pun yang bisa menemukan kertas tersebut ataupun berhasil membuktikan kebenarannya. Akibatnya, Fermat’s Last Theorem ini pun menjadi legenda di bidang matematika. Akhir kisah dari Fermat’s Last Theorem dalam kisah nyata pun, sudah pernah saya baca di awal dekade 2000-an. Teorema/konjektur tersebut sudah terpecahkan pembuktiannya di pertengahan dekade 1990-an. Maka dari itulah saya maklum dengan alasan mengapa cerita ini dibuat di setting tahun 1992.

Ah, tapi fakta-fakta di atas tidak mengurangi rasa penasaran saya.

Ternyata setelah dinikmati, buku ini cukup menarik. Dituturkan seluruhnya dari sudut pandang Laura Welman, seorang remaja 12 tahun yang tinggal di desa fiktif bernama Littlewood, cerita ini menghadirkan nuansa rasa ingin tahu yang menggebu-gebu dalam diri seorang remaja yang tengah mencari jati diri, kebingungan dengan apa sebetulnya bidang yang ia minati. Konten obrolan tentang matematika pun, bisa disampaikan dengan cara yang unik: Sederhana, lugas, dan tidak ngejelimet. Saya rasa ini salah satu bukti bahwa Mba Annisa bisa jadi tutor buat guru-guru matematika yang tidak paham cara menyederhanakan penyampaian pelajaran di sekolah ya, hehe #peace

Di balik urusan matematika yang dibahas cukup luas di novel ini, ada juga bahasan tentang persahabatan. Entah itu antara Laura dengan teman sekolahnya, ataupun dengan keluarga Maxwell. Omong-omong soal persahabatan, ini ada satu kutipan dari karakter Julius yang menurut saya cukup menginspirasi:

“Semua orang aneh dengan caranya sendiri. Terkadang keanehanmu tidak cocok dengan keanehan orang lain, jadi mereka menyebutmu aneh. Tetapi terkadang keanehanmu cocok dengan keanehan seseorang, dan kalian bisa berteman.”

Buat yang sering merasa minder karena dicap aneh, kalimat ini pasti sangat memotivasi.

Jika sudah pernah mendengar kisah nyata soal ending Fermat’s Last Theorem, kalian pasti dengan mudah menebak akhir cerita ini. Tetapi, ada lagi nilai yang kalian bakal dapatkan setelah selesai membaca buku ini. Coba tebak? Saya kasih petunjuk: Tentang prasangka. Coba deh dibaca 🙂

Salut dengan Mba Annisa yang bisa menghasilkan karya fiksi dengan latar fakta dari bidang yang tidak biasa. Plus Mba Annisa juga berhasil menambah nilai-nilai positif yang bisa diambil dari sebuah karya teenlit. Penasaran?

My ratings and Goodreads

  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital, Scoop
  • Teka-teki Terakhir on Goodreads
  • Personal Goodreads Rating: 3/5

How to get this book