The Time Keeper (Mitch Albom, 2012)

Identitas Buku

Title: Sang Penjaga Waktu
Original Title: The Time Keeper
Author: Mitch Albom
Indonesian Translator: Tanti Lesmana
Published: 2012 (edisi cover baru, cetakan IV: Oktober 2016)
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Paperback
Genre: Fantasi Inspiratif, Fiksi Umum
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 312 halaman
ISBN-13: 978-602-033-353-3

Sinopsis Official

Dialah pencipta jam pertama di dunia. Dia dihukum karena mencoba mengukur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabadabad dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Lalu dia kembali ke dunia kita, dengan membawa jam pasir ajaib dan sebuah misi: menebus kesalahannya dengan mempertemukan dua manusia di bumi, untuk mengajarkan makna waktu kepada mereka.

Continue reading

30 Paspor di Kelas Sang Profesor (J.S. Khairen, 2014)

Identitas Buku

Judul: 30 Paspor di Kelas Sang Profesor: Kisah Anak-anak Muda Kesasar di Empat Benua (2 buku)
Penulis: Jombang Santani Khairen
Genre: Travel
Terbit: Oktober 2014
Bahasa: Indonesia
Penerbit: NouraBooks
Cover: Paperback
Tebal: 328 halaman (buku 1) + 325 halaman (buku 2)
ISBN-13: 978-602-130-673-4 (buku 1) + 978-602-130-674-1 (buku 2)

Sinopsis Official

Paling lambat 1,5 bulan ke depan, kalian semua harus sudah berangkat!

Demikian ucapan Prof. Rhenald Kasali pada hari pertama masuk kuliah Pemasaran Internasional yang sontak membuat kelas gaduh luar biasa. Negara tujuan ditentukan saat itu juga. Sementara paspor harus didapatkan dalam waktu dua minggu ke depan.

Metode kuliah yang awalnya ditentang banyak orang tersebut—dari orangtua mahasiswa sampai sesama dosen—terbukti menjadi ajang “latihan terbang” bagi para calon rajawali. Demikian Prof. Rhenald mengibaratkannya. Tersasar di negeri orang dapat menumbuhkan mental self driving, syarat untuk menjadi pribadi yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab.

Dalam jilid pertama buku ini, para mahasiswa mengalami sendiri berbagai pengalaman unik. Ketinggalan pesawat, digoda kakek-kakek genit, kena tipu oleh pengemis, adalah beberapa di antaranya.

Resensi

Baru membaca blurb-nya saja, saya sudah dibuat tertarik. Berhubung saya sendiri tidak paham situasi dan kondisi kampus Depok, bukan pula pembaca surat kabar yang baik, jadi jujur saja baru dengar “ulah” Prof. Rhenald Kasali lewat blurb buku ini.

Bayangkan diri Anda adalah mahasiswa tingkat 3 atau 4, baru berumur 20-22 tahun dan belum punya penghasilan sendiri, tapi tahu-tahu disuruh urus paspor sendiri, lalu gilanya disuruh bepergian sendiri ke luar negeri, tidak boleh ke negara yang berbahasa Melayu, tidak boleh dibantu tur ataupun keluarga, dan tidak boleh berdua atau bertiga dengan teman sekelas ke negara yang sama. Semuanya ini dihitung dalam penilaian kelulusan mata kuliah yang bernama Pemasaran Internasional. Satu lagi syarat: Perginya harus sebelum ujian tengah semester! Pusing kan? Saya bisa membayangkan jika saya ada di posisi mereka, sudah bisa dijamin langsung pikiran kusut seketika!

Kenapa begitu?

Sejauh dari yang pernah saya baca, orang Indonesia memang kreatif namun terkadang suka membatasi dirinya. Mengukur semua hal lewat uang: Bayangkan, Anda belum punya penghasilan tapi harus pergi ke luar negeri. Sementara, ke luar negeri buat orang Indonesia adalah identik dengan kata mahal. Inilah paradigma orang Indonesia yang mau coba didobrak oleh Sang Profesor. Sesuai nama mata kuliahnya yaitu Pemasaran Internasional, Prof menekankan bahwa mahasiswanya harus punya wawasan mendunia dan pengalaman mendunia. Jadi itu: Tidak cuma wawasannya. Tapi pernah mengalami sendiri: Itu yang lebih penting!

Jadilah, buku kembar ini pun hadir sebagai bentuk perpaduan yang kira-kira komposisinya terdiri atas 80% buku travel dan 20% buku motivasi. Inti dari tiga puluh cerita yang dituangkan dalam buku ini sebetulnya mirip-mirip karena memang intisari temanya sama. Mahasiswa-mahasiswa tersebut jalan-jalan sendirian ke luar negeri, lalu mereka menuliskan tentang pengalamannya, dan apa yang mereka rasakan. Kira-kira inilah benang merahnya:

  1. Bepergian ke luar negeri itu mungkin memang tidak murah dan tidak mudah merencanakannya, tapi perlu. Mengapa? Dengan bepergian ke luar negeri, kita bisa mendapatkan pengalaman baru dari tempat yang budayanya berbeda dengan kita. Sehingga mau tidak mau pikiran dan wawasan kita juga akan bertambah luas dan bisa memahami berbagai masalah dari berbagai sisi yang berbeda.
  2. Bepergian ke luar negeri sendirian melatih kemandirian dan daya survival diri sendiri dalam menghadapi kesulitan-kesulitan. Termasuk ketika kesasar.
  3. Orang-orang baik ternyata tak cuma di negeri sendiri tetapi di negara lain pun banyak. Kalau mereka tidak menolong ketika kita bertanya, kemungkinan besar adalah karena mereka tidak mengerti bahasa Inggris, bukan karena jahat.

Di buku satu, saya hanya membaca tiga tulisan dengan teliti, yaitu The Land of Ice and Fire (Islandia), Menikmati Keramahan Negeri Burma (Myanmar), dan Sempitnya Sepatuku (Bangladesh). Favorit saya di buku satu adalah Sempitnya Sepatuku, yang ternyata merupakan kisah mahasiswa yang terlambat memilih dan negara incarannya keburu digondol rekan sekelasnya. Tapi justru saya merasakan semangat juang si mahasiswa inilah yang lebih daripada yang lain di buku satu, apalagi dibanding mahasiswa yang lebih beruntung secara finansial. Bukannya mengeluh, tapi malah mahasiswa luar biasa ini bersemangat sekali menghadapi situasinya. Kisah si mahasiswa ini juga cukup pas dengan premis buku, karena dia termasuk segelintir kontributor di buku ini yang “tidak lupa dengan alasan mengapa dia ke luar negeri saat itu”, di kala kontributor lain terfokus ke urusan plesiran belaka.

Sementara di buku dua, ada dua tulisan yang jadi perhatian khusus buat saya: The Sand, Sun, and The Seven Dirham Shawarma (Uni Emirat Arab) cukup banyak memberikan pelajaran berhemat di negeri (yang katanya) mahal. Petualangan Seru di India juga menarik karena bahasa yang diutarakan sang mahasiswa bisa dibilang ringan dan lucu.

Buku ini tentu tidak lepas dari kelemahan. Ini beberapa kelemahan yang berhasil saya tangkap.

  1. Lumayan sering ada alur loncat yang bikin bingung pembaca. Sebagai contoh, cerita The Land of Ice and Fire (buku 1). Penulis tengah mengutarakan suatu ide, belum selesai, eh tiba-tiba sudah loncat ke ide lain. Ide yang tadi belum terselesaikan ulasannya, dibiarkan begitu saja. Sampai cerita habis tidak dibahas lagi.
  2. Pemilihan kata terkadang kaku, dan setelah saya baca ulang tetap saja saya gagal paham (lagi). Ambil contoh, buku 2 halaman 24 “…Bahkan, banyak kejadian seperti aku diperlakukan dengan tidak ramah. Hal ini berbeda saat misalnya bagian lobi melayani orang asing dengan ramahnya sementara saat aku…”. Saya gagal paham apa maksudnya bagian kalimat yang saya bold tadi. Duh, ya sudahlah saya skip saja daripada bengong lama-lama di situ.
  3. Di buku satu, ada tulisan yang si mahasiswanya kebanyakan mengeluh plus marah-marah (walaupun dia sendiri belakangan bilang bahwa sikapnya itu tidak baik), dan ada pula yang baru ketemu masalah sedikit langsung menyandarkan diri ke orang lain padahal udah jelas dilarang oleh sang profesor. Buat saya, tulisan-tulisan yang seperti itu agak kurang enak dibaca karena agak-agak memperburuk mood. Bagi yang sudah baca, mungkin bisa tebak kontributor yang manakah itu.
  4. Dan yang cukup mengganggu juga adalah inkonsistensi premis soal jumlah negara dan negara tujuan yang boleh disambangi lebih dari satu mahasiswa. Korea, Australia, dan Turki contohnya – padahal di depan disebutkan dengan jelas bahwa satu negara hanya boleh satu mahasiswa. Bahkan Turki: Kalau tidak salah baca, dua mahasiswa itu sama-sama ke Istanbul. Memangnya boleh dua mahasiswa ke kota yang sama? Apakah mereka sekelas atau seangkatan? (Karena tak ada penjelasan juga apakah dua orang yang datang ke negara yang sama tersebut adalah seangkatan atau tidak)
  5. Tidak semua cerita mengisahkan bagaimana reaksi sang profesor ketika melihat laporan perjalanan mereka dipresentasikan. Padahal, sebetulnya saya penasaran lho…

Mungkin muncul pertanyaan, bisakah buku ini dibaca secara acak, atau hanya dibaca buku satunya saja, tanpa buku dua, atau sebaliknya? Jawabannya, menurut saya: Bisa. Buku ini punya tiga puluh tulisan, dengan destinasi wisata berbeda-beda (satu negara hanya muncul maksimal dua kali), dan tentu saja negara mana yang kita baca ya tergantung minatnya kita. Kalau sedang ingin ke India, bacalah tulisan yang membahas India (ada di buku 2). Atau ingin ke Myanmar, bacalah tulisannya di buku 1. Demikian seterusnya. Namun kalau ingin membaca ceritanya hingga komplit, silahkan baca keduanya.

Jadi, akhir kata… Buat saya buku ini sedikit di bawah ekspektasi, terutama buku dua-nya yang terkesan semacam “energinya sudah disedot habis oleh buku satu” buat saya. Tapi bukan berarti buku ini benar-benar jelek dan tidak layak baca, salah. Buku ini pas sekali untuk orang-orang yang masih berpikir dan berparadigma bahwa ke luar negeri itu mahal dan susah dilakukan, bahwa ke luar negeri itu hanya hak buat orang kaya. Selain itu, buat kalian yang butuh buku travel yang merangkap fungsi sebagai buku motivasi, buku ini pun bisa jadi contoh referensi yang pas dengan kebutuhan tersebut.

Kalimat-kalimat menarik

  • Kita pergi jauh untuk menyadari di mana rumah kita yang sebenarnya. (buku 1, halaman 21)
  • Orang membutuhkan pressure supaya mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak mereka duga bahwa mereka bisa melakukannya. (buku 1, halaman 47)
  • Jika banyak warga Indonesia yang masih mengeluh dengan negeri surga ini, mereka harus pergi ke tempat-tempat yang lebih membuat mereka mengeluh. (buku 1, halaman 247)
  • Jadikan orang yang memandang sebelah mata sebagai vitamin semangat. Buktikan kepada mereka bahwa kita bisa dan tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. (buku 2, halaman 12)
  • Di sini rupanya empati orang-orang sangat tinggi. Inikah yang membedakan negara dengan mental juara dengan negara pecundang? (buku 2, halaman 162)

Miscellaneous & Ratings

2.5-star

  • My rating (book 2): 2/5 (Goodreads), 4/10 (Personal)

2-star

  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital – SCOOP

File_001File_000

  • How to get book 1: SCOOP (Rp 40.000 or 500 SCOOP points – digital version only)
  • How to get book 1: Gramedia.com (Rp 54.400 – belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get book 1: Bukabuku.com (Rp 51.200 – belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get book 2: SCOOP (Rp 36.000 or 450 SCOOP points – digital version only)
  • How to get book 2: Gramedia.com (Rp 54.400 – belum termasuk ongkos kirim)
  • How to get book 2: Bukabuku.com

The 7 Habits of Highly Effective Teens (Sean Covey, 1997)

Identitas Buku

Book Title: The 7 Habits of Highly Effective Teens
Author: Sean Covey
Genre: Self-help, Motivation, Psychology, Parenting
Publisher: Touchstone
Release Date: January 9, 1997
Cover: Paperback
Language: English
Pages: 268 pages
ISBN-13: 978-068-485-609-4

Sinopsis Official

In the bestselling tradition of Chicken Soup for the Teenage Soul, this invaluable guide speaks loudly and convincingly to teens and provides them with universal principles sure to enhance their effectiveness and guide their future decisions.

Continue reading

Hearty Complaint Handling (Agni S. Mayangsari, 2015)

Identitas Buku

Judul: Hearty Complaint Handling
Penulis: Agni S. Mayangsari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit: 21 Desember 2015
Genre: Business, self-help, management, motivation
Cover: Paperback
Tebal: 220 halaman
ISBN-13: 978-602-032-457-9

Sinopsis Official

Edukasi yang makin baik dan akses informasi yang makin mudah membuat customer lebih kritis. Mereka semakin paham apa saja yang menjadi haknya. 96% customer yang kecewa dengan perusahaan kita memilih untuk diam dan tidak mengajukan komplain. Dan, 91% di antara mereka memilih pindah ke kompetitor dan tak pernah kembali pada bisnis kita. Artinya, customer yang mau meluangkan waktu untuk menyampaikan komplain adalah customer yang memiliki iktikad baik untuk melanjutkan hubungan bisnis dengan kita. Oleh karena itu, kemampuan menangani komplain secara efektif merupakan hal yang sangat penting dan mendesak. Pengabaian komplain hanya akan menyebabkan masalahnya menggelinding liar dan berpotensi menghancurkan. Kesalahan dalam menangani komplain seperti sikap kurang peduli atau hanya terpaku pada aturan baku perusahaan akan membuat kita kehilangan customer itu untuk selamanya. Masalahnya, banyak orang takut menangani komplain. Mereka tidak siap menahan sakit hati dimarahi dan tak punya pengetahuan cukup mengenai langkah efektif menangani komplain. Ibarat diminta berperang, mereka tak punya senjata. Bunuh diri namanya. Buku ini memberikan panduan mudah menangani komplain. Memahami alasan komplain, akan memudahkan Anda memilih cara tepat menanganinya. Mengenali tipe customer dan cara mereka mengajukan komplain juga membuat Anda lebih siap secara mental dalam menanganinya. Dengan demikian, Anda punya kesempatan untuk mengubah complaint menjadi compliment.

Continue reading

Your Job Is Not Your Career (Rene Suhardono, 2010)

Identitas Buku

your-job-is-not-your-career

Judul: Your Job Is Not Your Career
Penulis: Rene Suhardono
Terbit: Maret 2010
Genre: Self-help, Psychology, Career
Penerbit: Literati Book
Bahasa: Indonesia
Cover: Paperback
Tebal: 350 halaman
ISBN-13: 979-978-602-874-0

Sinopsis Official

Jika pergi bekerja membuat Anda ingin terjun ke sumur, maka Anda tidak sendiri. Ada banyak pekerja Indonesia merasakan hal yang sama dengan Anda. Kebanyakan mungkin karena mereka punya persepsi konvensional tentang pekerjaan dan karier.

Here is a news for you. YOUR JOB IS NOT YOUR CAREER.

Pekerjaan hanyalah bagian dari karier. karier yang membahagiakan erat dengan hal-hal seperti passion, tujuan hidup, values dan motivasi. bukan berapa besar gaji atau fasilitas yang diperoleh dari pekerjaan.

Resensi

Di tahun 2010, rasanya belum banyak buku yang berani tampil dengan warna-warni berbeda di tiap halaman. Juga belum banyak buku yang berani menyajikan tulisan besar-besar yang cuma satu kalimat, tapi ukuran tulisannya sampai memenuhi satu halaman, demi alasan “supaya nancap di otak pembaca”. Nah, buku ini termasuk salah satu buku lokal angkatan pertama yang berani hadir dengan visualisasi gila semacam itu. Apalagi, bukunya ada dua dalam satu paket! Bertambah gila-lah wujud buku ini, untuk zaman itu. Barangkali, saya terkaget-kaget karena saat itu saya belum pernah membaca buku self-help karya Paul Arden. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya membaca Whatever You Think, Think The Opposite, barulah saya sadar bahwa buku ini sedikit banyak meniru cara visualisasi dan penekanan-penekanan kalimat penting ala Paul Arden. Ah, tapi tidak apa-apa menurut saya, toh buku ini ‘kan produk lokal dan bukan terjemahan… Hihi.

Rene Suhardono, penulisnya, dikenal sebagai seorang Career Coach. Di akhir dekade 2000-an dan awal 2010-an, ia dikenal sering hadir di acara-acara radio (HardRock FM) dan televisi (saya sering melihatnya di MetroTV dulu), dan semuanya mengulas soal passion dan pekerjaan. Memang rasanya beliau punya daya charming tersendiri kalau sudah mengupas tuntas soal pekerjaan dan mengapa seseorang melakukan suatu pekerjaan. Gaya bicaranya berapi-api tapi yang diceramahi tidak merasa digurui, justru merasa “agak terpanggil”, atau barangkali “tersadarkan”. Kini, Rene aktif di Impact Factory (organisasi yang menggali potensi manusia), Comma ID (bisnis coworking space), dan masih menjadi kolumnis karir di Kompas Klasika.

Nah, rasa-rasanya nyaris semua ulasan Rene soal pekerjaan dan alasan seseorang memilih suatu pekerjaan, ia tuangkan dalam buku ini. Di buku pertama, kita bisa lihat bagaimana Rene menguraikan soal definisi pekerjaan. Bahwa biasanya, pekerjaan adalah suatu aktivitas yang kita pilih berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, dan pekerjaan ini haruslah mendatangkan penghasilan. Tapi kenyataannya, cukup banyak orang yang ternyata kurang menyukai pekerjaannya karena merasa pekerjaan tersebut tidak membuat “pribadinya merasa terpenuhi sebagai manusia seutuhnya”. Lantas apa yang kurang?

Bisa ditebak: Passion. Rene sempat menguraikan, bahwa passion itu bukanlah sesuatu yang kita bisa lakukan dengan baik (konon ia biasa menyebut ini bakat atau talent), tetapi passion adalah apa yang paling senang kita lakukan hingga bisa lupa waktu. Sesuatu yang benar-benar kita nikmati ketika kita menjalani proses di dalamnya. Atau ekstrimnya, bahkan disebut-sebut bahwa kita rela melakukan aktivitas yang menjadi passion kita, bahkan ketika tidak dibayar sekalipun. Di bagian pertengahan buku pertama, kita bakal diajak mengenal apa itu passion. Mengapa passion ini penting banget? Rene mengungkapkan bahwa passion adalah sesuatu yang mendorong kita supaya menjalani hari-hari sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan personal yang ingin kita capai dalam hidup.

Buat yang belum tahu apa passion-nya, kita pun diberi semacam permainan yang bisa kita coba sendiri, dengan tujuan mencari tahu passion kita itu apa. Salah satu cara unik lain yang diperkenalkan Rene untuk mengenali passion dan mencapai fulfillment atau kepuasan hidup, adalah menggunakan tokoh yang disebut sebagai Rockstar. Menurut saya, konsep Rockstar ini mirip dengan konsep idola, namun pendekatannya dibuat berbeda dan lebih disesuaikan dengan keinginan. Eits, jangan berpikir bahwa passion itu sama dengan hobi loh ya!

Lantas, setelah kita mendapati apa passion kita, kita pun diajak menelaah makna karir, alias Career. Apakah karir harus sama dengan pekerjaan? Ataukah karir harus dipaksakan sejalan dengan passion? Memang yang idealnya adalah ketiganya berjalan bersama. Bagaimana kalau tidak? Atau kalau tidak pas?

Nah, coba baca bagian akhir dari buku satu, dan temukan jawabannya. Sayangnya menurut saya, bisa saja jawabannya sreg buat kita, bisa juga tidak. Tapi yang jelas:

  1. Pekerjaan itu bukan penentu karir seutuhnya. Ada peran passion dan personal fulfillment di sana.
  2. Success (sukses) adalah kombinasi dari tiga hal: ability, effort, dan attitude.

Lanjut ke buku dua yang diberi tajuk Career Snippet. Buku ini jelas punya misi beda dengan buku pertama. Kalau buku pertama lebih mengajak kita mengenal passion dan apa kepentingan passion buat hidup dan karir kita, maka buku kedua lebih banyak membahas bagaimana kita bisa mengintegrasikan atau bahkan menyelaraskan antara passion dengan pekerjaan yang tengah kita jalani saat ini, atau yang akan kita jalani tak lama lagi. Tak lupa, Rene juga menampilkan sejumlah rockstars pilihan, di antaranya ada Yoris Sebastian, Jerry Aurum, Andy F. Noya, dan Reza Gunawan. Mereka-mereka ini dihadirkan untuk menjadi saksi hidup dari berbagai tips seputar pekerjaan, passion, dan menjadi diri sendiri di dunia kerja, dengan sebaik-baiknya. Buat kalian yang membaca buku ini saat akan lulus kuliah atau saat mencari pekerjaan, buku dua ini pas banget buat kalian pelajari secara mendalam!

Akhir kata, Your Job Is Not Your Career ini adalah paketan buku yang sangat cocok untuk generasi muda yang masih berupaya mengaktualisasi diri lewat karir, karya, pekerjaan yang cocok, dengan tidak meninggalkan passion dan tetap punya purpose of life atau tujuan hidup tertentu. Tak salah kalau buku ini dianggap sebagai pelopor buku self-help asli Indonesia yang mengulas karir dan profesionalisme dengan penuh warna dan antusiasme.

 

Miscellaneous and Ratings

3.5-star

  • How to get this book: Scoop – Rp 48.000 (digital version only)
  • How to get this book: Bukabuku.com – Rp 69.200 (edisi revisi baru, belum termasuk ongkos kirim)

My Blurbs Episode 3: Luck and Money

Di My Blurbs kali ini, saya akan membahas tiga buku yang membicarakan keberuntungan dan uang, yang kebetulan sudah saya baca. Ini dia…

moneychoron   fromhobbytomoney   menjemputkeberuntungan Continue reading

Sadar Penuh Hadir Utuh (Adjie Silarus, 2015)

Identitas Buku

sadarpenuh

Judul: Sadar Penuh Hadir Utuh
Penulis: Adjie Silarus
Penerbit: Transmedia Pustaka
Genre: Non-fiksi, self-help
Bahasa: Indonesia
Terbit: Kuartal ketiga 2015
Tebal: 270 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 979-978-602-103-6

 

Sinopsis Official

Kadang kita perlu duduk sejenak merangkul diam, tidak terperangkap masa lalu, tidak juga mengembara ke masa depan.

Sering kali kita merasa sibuk dan kekurangan waktu untuk ini dan itu. Kita berusaha mengerjakan semuanya sekaligus, tanpa sadar bahwa tubuh dan pikiran kita memiliki keterbatasan. Karena itu, buku ini hadir untuk mengajak Anda duduk diam sejenak, agar dapat menyadari kehadiran Anda di sini, saat ini.

Di dalamnya diulas berbagai langkah praktis untuk mencapai mindfulness, yaitu keselerasan tubuh dan pikiran. Dengan begitu, diharapkan Anda dapat menjalani keseharian disertai energi yang lebih positif. Selain dapat membantu mengelola stres, mindfulness juga membuat Anda lebih menghargai kebahagiaan pada hal-hal sederhana.

Continue reading