Foodie and the City: Petualangan Kuliner Jelajah Rasa (Nadia Mulya, Joy Roesma, Vania Wibisono, 2015)

Identitas Buku

Judul buku: Foodie and the City: Petualangan Kuliner Jelajah Rasa
Penulis: Nadia Mulya, Joy Roesma, Vania Wibisono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Non-fiksi, Lifestyle
Tebal: 292 halaman
Ukuran: 15 cm x 21 cm
Bahasa: Indonesia
Terbit: 24 Agustus 2015
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-602-032-022-9

Sinopsis Official

Makan dan masak. Dua hal yang dahulu fungsi utamanya adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia. Oh, life was so simple back then. Sekarang ini—di era melejitnya program acara masak, booming-nya superfood dan dessert nggemesin, media sosial dan #FoodPorn, penelitian reaksi kimia dan fisika terhadap molekul makanan, serta apresiasi baru terhadap masakan tradisional—makan dan masak telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih besar. Makan dan masak telah menjadi barometer penting dalam gaya hidup, sarana meng-upgrade status, wujud komitmen (atau pencitraan) hidup sehat, ajang mencetak uang, mediator dalam memburu cinta, bahkan indikator tingkat ke-happening-an seseorang (check in di Path atau Instagram untuk mewartakan restoran hits itu hukumnya wajib!) Dari pecak gurame hingga foie gras, dari food truck hingga restoran dengan waiting list tujuh tahun, dari food selfie sampai aphrodisiac berbonus quickie, semua perihal kepuasan duniawi bernama makanan ini dikupas tuntas. Oh yeah.

Joy Roesma dan Nadia Mulya mengupas fenomena ini dan mengajak Anda menjelajah rasa dengan gaya penulisan mereka yang ringan, menyentil, dan penuh cerita juicy layaknya kedua buku bestseller mereka sebelumnya, Kocok!: The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites dan Moms and the City. Sementara chef cantik, Vania Wibisono, turut berbagi pengalaman kuliner dan secara spesial meramu resep kreatif dengan tiga tingkat kesulitan berbeda yang menjamin akan membuat Anda food coma.

Buku Foodie and the City dapat dinikmati semua jenis foodie: dari yang suka makan, ingin menggeluti bisnis kuliner, hobi memasak, hobi diet, pemerhati gaya hidup, sampai yang kepo dengan cerita behind the scene di balik sepiring hidangan nikmat. Apa pun motivasinya, bersiaplah untuk merasakan klimaks kuliner!

“Sebuah bacaan ringan yang dibumbui topik menarik dan menghibur, ditaburi resep aplikatif, dan di-garnish dengan kejadian sosial masa kini. Sebuah buku yang telah dipersiapkan menggunakan bahan-bahan informasi berkualitas yang diracik oleh tiga foodie berpengalaman dengan penyajian yang berbeda namun tetap memuaskan.”
—Chef Degan Septoadji Suprijadi
Celebrity chef dan pemilik Café Degan Bali dan restoran Letter D

Continue reading

Tuan Besar (Threes Emir, 2012)

Identitas Buku

tuanbesar

Judul buku: Tuan Besar – kisah para lelaki metropolitan
Penulis: Threes Emir
Genre: Fiksi, metropop
Bahasa: Indonesia
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal: 256 halaman
Terbit: April 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-228-427-0

Sinopsis Official

Siapakah yang layak disebut atau menyebut dirinya Tuan Besar? Rasanya siapa pun boleh karena banyak sekali tipe Tuan Besar.

Ada Tuan Besar yang masya Allah beratnya 95 kg gara-gara tidak bisa mengontrol makanan. Ada juga Tuan Besar yang tidak senang bergaul dengan yang seumurnya tetapi memilih yang berumur dua puluhan. Bahkan ada pula yang sudah merasa menjadi Tuan Besar, walaupun pada kenyataannya belum.

Jangan heran, ada pula Tuan Besar yang cepat terbuai rayuan dan baru menyadarinya setelah segalanya terlambat. Namun, ada juga Tuan Besar yang cintanya pada pasangannya sungguh mengharukan dan patut ditiru.

Ah, jangan-jangan Anda salah satu dari Tuan Besar yang ada di buku ini!

Continue reading

Nyonya Besar (Threes Emir, 2012)

Identitas Buku

Judul buku: Nyonya Besar – kumpulan kisah kaum sosialita
Penulis: Threes Emir
Genre: Fiksi, metropop
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal: 272 halaman
Terbit: Februari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cover: Softcover
ISBN: 978-979-22-7928-3

 

 

 

 

 

 

Sinopsis Official

Nyonya Besar adalah nyonya penggemar tas merek tertentu yang harganya selangit, ia kesal sekali melihat begitu banyak wanita yang ikutan menentengnya, padahal tas mereka palsu.

Nyonya Besar adalah istri seorang direktur yang gemar musik klasik dan berdansa ballroom, sementara suaminya penikmat musik dangdut. Setengah mati sang Nyonya Besar ingin mengubah selera musik suaminya, namun tak berhasil.

Nyonya Besar adalah seorang nyonya baik hati yang tidak hanya membiayai sekolah anak-anak sopirnya, bahkan juga mengirim si sopir dan istrinya ke Mekah untuk naik haji.

Nyonya Besar adalah seorang ibu yang dengan indra keenamnya mampu melihat anak gadisnya menjadi ”simpanan” pejabat dan dengan tegas membawa kembali putrinya pulang.

Jangan-jangan salah satu Nyonya Besar dalam buku ini punya kisah yang sama dengan Anda atau orang yang Anda kenal….

Resensi

Sekilas, ketika dilihat dari sampul dan sinopsisnya, buku ini adalah gambaran emosi dan perasaan di dunia borjuis. Muak dilihat, tapi bikin penasaran untuk diselami. Bagaimana cara mereka berpikir, bertindak, dan seberapa sombongnya mereka? Judulnya saja sudah sesuai: Nyonya Besar. Dengan embel-embel berbasis kisah nyata: Apa yang sesungguhnya bakal disajikan Bu Threes Emir dalam buku ini?

Melihat daftar isinya saja, saya langsung bingung plus pesimistik. Bagaimana Bu Threes, dan kita pembacanya, bisa mengingat dan mengidentifikasi kedua puluh lima nyonya besar yang dikisahkan dalam buku Metropop ini? Saya pun langsung menurunkan ekspektasi atas buku ini bahkan sebelum membaca cerita para nyonya. Tapi, benarkah keputusan saya?

Sebagian cerita memang begitu berkesan. Buat saya, salah satu kisah yang bagus adalah si nyonya besar 3 (ibu dan sopir), menunjukkan benar bahwa masih ada orang baik di Jakarta yang kejam. Lalu kisah yang bagus juga adalah si nyonya besar 9. Menampar wajah pencitraan berdalih popularitas. Nyonya besar 4 juga pribadi yang luar biasa, kita (bahkan para pria) patut mencontoh semangatnya yang selalu berkobar dalam situasi apapun. Nyonya besar 15 yang agak bikin miris, bahwa duit belum tentu bisa membeli karakter. Nyonya besar 19: Saya sampai bingung siapa yang lebih besar kenyonyaannya! Dan si penutup, nyonya besar 25, punya kisah hidup lucu meskipun “belum resmi nyonya”. Namun selebihnya, menurut saya kurang membekas, bahkan jujur kisah beberapa nyonya besar sudah total saya lupa ketika menutup buku ini.

Balik lagi ke ekspektasi awal tadi. Ternyata ekspektasi saya kurang tepat. Buku ini tidak melulu mengupas masalah borjuisme tok seperti dugaan saya semula. Memang, latar kisah-kisah yang dominan adalah kekayaan dan kemapanan. Namun emosi dan sikap di baliknya berbeda-beda. Ada yang memang lahir kaya, ada yang harus mati-matian supaya kaya, ada juga yang kaya tapi diporoti orang lain, bahkan ada yang rela jadi munafik demi terlihat kaya. Padahal, meminjam kutipan Om Bob Sadino yang baru wafat: “Orang yang betulan punya duit tidak akan banyak bicara seperti orang yang berlagak punya“. Menurut saya, itu yang sebenarnya mau ditekankan Bu Threes lewat buku ini. Bahwa kebesaran sang nyonya bukan cuma diukur dari duit, tapi terkadang kebesaran hati pun bisa membesarkan status kenyonyaan seorang wanita.

Buat yang ingin mengenal kaum borjuisme dan berharap bisa memasukinya, buku ini tidak begitu pas. Karena yang disorot lebih ke sikap mental, bukan ke teknis cara mencari lelaki kaya atau semacamnya. Namun buat yang ingin mengenal kaum wanita dan wanita seperti apa yang layak dijadikan istri, nah… Buku ini tepat sekali buat dijadikan referensi. Dua puluh lima wanita, dua puluh lima tipe. Hati-hati ketika memilih.

My ratings

  • Story 6/10
  • Excitement 6/10
  • Readers grasp 5/10
  • Tagline association 6/10
  • Moral value 6/10

Personal Rating and Goodreads

  • Saya membacanya dalam bentuk: Digital, Gramediana
  • Nyonya Besar di Goodreads
  • Personal Goodreads Rating 3/5