We Were Liars – Para Pembohong (2014)

Identitas Buku

we-were-liars-gramedia-2016

Title: We Were Liars (Para Pembohong)
Author: E. Lockhart
Indonesian Translator: Nina Andiana
Published: 13 Mei 2014
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiction, suspense, young adult
Language: Bahasa Indonesia
Pages: 296 pages
ISBN-13: 987-602-030-6711
Awards: Georgia Peach Book Award (2015), Pennsylvania Young Readers’ Choice Award Nominee for Young Adults (2016), Milwaukee County Teen Book Award Nominee (2015), The Inky Awards Nominee for Silver Inky (2015), Bookworm Best Award for Best Fiction (2014)
Goodreads Choice Award for Young Adult Fiction (2014), The Magnolia Award for 9-12 (2016)

Sinopsis Official

Keluarga yang menawan dan disegani.
Pulau pribadi.
Gadis cerdas yang risau; pemuda politis yang penuh semangat.
Empat sahabat—Para Pembohong—dengan pertemanan yang kemudian menjadi destruktif.
Kecelakaan. Rahasia.
Kebohongan demi kebohongan.
Cinta sejati.
Kebenaran.

Para Pembohong merupakan novel suspense modern karya E. Lockhart, finalis National Book Award dan penerima Printz Award. Bacalah.

Dan jika ada yang bertanya bagaimana akhir cerita ini, JANGAN BERITAHUKAN.

Continue reading

11:11 (Lucia Priandarini, 2016)

Identitas Buku

11-11

Judul: 11:11
Penulis: Lucia Priandarini
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
Genre: Fiksi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 14 Maret 2016
Tebal: 184 halaman
Cover: Paperback
ISBN-13: 978-602-375-376-5

Sinopsis Official

Apa hal terburuk dari bertemu orang dari masa lalu? Bisa jadi jawabannya adalah menghadapi kepingan diri pada masa silam yang diam-diam ingin disembunyikan. Orang bilang masa lalu mestinya ditinggalkan demi menatap masa depan. Padahal, masa lalu adalah cermin untuk mengingat siapa dan dari mana perjalanan manusia bermula.

Btari tidak menyangka open trip pertamanya ke Bromo membawanya berjumpa dengan Mikhail teman masa kecilnya. Btari tak pernah lagi bertemu Mikha sejak keluarganya memutuskan pindah ke Jakarta. Dan, kini ia berjumpa Mikha, empat minggu jelang hari pernikahan dengan tunangannya.

Perjalanan 1 x 24 jam menuju Bromo bersama laki-laki dari masa lalu membawa Btari pada kisah baru. Menyadarkannya dari 25 tahun cerita hidup yang seolah dituliskan oleh orang lain. Mikhail menunjukkan kepadanya, tak semua orang bisa mendapat kemewahan untuk memilih, ketika sebagian lain hanya bisa menerima.

Hingga pada pukul sebelas menit kesebelas, Btari dan Mikha sampai pada suatu pembicaraan penting. Pembicaraan tentang diri mereka yang sebenarnya. Tentang bagaimana kemarin, hari ini, dan esok keduanya akan berada.

Resensi

Di bulan Maret 2016, terbit tiga novel dengan judul jam dari Grasindo. Namun, di antara trio 00:00, buku ini, dan 17:17, saya jelas memilih novel seri angka yang ini untuk dibaca terlebih dahulu: Semata-mata karena saya penggemar angka 11. Saya bahkan pernah membuat tulisan “Tentang Sebelas” di Qureta (yang bisa dibaca juga di blog saya ini), saking sukanya dengan angka ini. Tapi jujur saja, thalassemia lolos dari bahasan saya di sana. Namun novel 11:11 pun berhasil mengaitkan 11 dan penyakit yang sifatnya diturunkan dalam keluarga ini.

Berbeda dengan kebanyakan cerita tentang penyakit, novel ini bisa dikatakan penuh optimisme. Kalau saya bandingkan, kira-kira seperti Oasis vs Nirvana di musik rock masa pertengahan 1990-an: Saat kebanyakan buku tentang orang sakit bicara tentang last wishes, perasaan ditolak, kekecewaan yang tiada akhir; buku ini justru “membawa harapan baru” yang tidak biasa.

Konten cerita tentang Btari dan Mikhail sebetulnya mainstream. Teman lama yang bertemu, lalu “terjadilah sesuatu yang diharapkan pembaca sebagai jalan menuju happy ending“. Tapi yang membuat buku ini menarik adalah cara penyampaian kontennya. Karakter terasa lumayan kuat. Btari dengan karakter introvert dan rasa ingin tahunya, dipadukan dengan Mikhail yang berkarakter optimis namun berwawasan luas. Pencirian ini terus ditekankan dari bab ke bab, sehingga sampai setelah cerita berakhir pun, pembaca bakalan masih berangan-angan seperti apakah Btari dan Mikhail, jika sosok mereka nyata.

Soal latar belakang cerita, berbagai sisi kota Malang dibahas habis-habisan sampai komplit sebagai latar lokasi cerita, dan seolah pembaca diajak memasuki lorong waktu bolak-balik. Sebentar ke masa lalu, sebentar ke masa kini dan realitas. Sebagai seorang yang kelahiran Malang, tampaknya inilah cara Rini “menjadi duta” kota Malang dengan caranya sendiri.

Belum lagi cara Rini menyingkap thalassemia dalam cerita, yang menurut saya cukup menarik dan mencetuskan rasa penasaran. Hingga pembaca pun bakalan sulit melepaskan buku ini sekalinya sudah memulai, apalagi setelah menyentuh puncak tema dari buku ini. Setelah saya melewatinya pun, tidak timbul rasa sekadar “oh, begitu doang?”… Melainkan lebih ke, “wah, akhirnya terungkap juga.”… Penasaran? Coba baca sendiri ya 🙂

Dan puncak kesenangan saya adalah ketika menyadari bahwa angka 11 ternyata cukup kuat maknanya dalam kisah ini. Selain jam 11.11 yang menjadi jam ketika pembicaraan penting terjadi, 11 juga berarti lain. Dan angka 11 pun, entah berapa kali muncul, sesuai ekspektasi saya si pecinta angka ini – Hehe :))

Jadi kesimpulannya… Novel 11.11 ini cukup bagus dari segi kekuatan cerita dan tokoh, serta pemilihan judul yang memang tidak sembarangan. Salut untuk Rini.

Kalimat-kalimat Menarik

Ada cukup banyak kalimat menginspirasi yang berasal dari karakter Mikhail, dan rasanya, blurbs dan cukilan quotes belum cukup menggambarkan keindahan kata-kata yang ada dalam buku ini. Saya ambil beberapa contoh di sini.

  • p.2: Sejak lahir, manusia adalah sebuah angka yang tidak ia pilih. Beberapa aktivitas ditakdirkan dikerjakan hanya oleh orang yang memenuhi kriteria tertentu sejak lahir.
  • p.31: Ketidakadilan di dunia ini datang dalam berbagai bentuk.
  • p.66: Apakah nggak sendiri itu sebuah keharusan?
  • p.73: Tapi yang sebenarnya lebih membuat sesak adalah awan pekat itu tidak boleh tampak dari luar.
  • p.138: Akhirnya kamu selalu ingin pulang ke dirimu sendiri karena siapa pun tidak bisa terus singgah dan berkelana.
  • p.144: Tidak semua wanita beruntung bisa menyebut bekerja sebagai pilihan.
  • p.165: Padahal menurutku orang yang sering terjebak kemacetan dan terus kembali lagi lama-kelamaan seharusnya jadi semakin sabar.

Review

  • Saya membacanya dalam bentuk: Fisik
  • 11:11 on Goodreads
  • My Personal Goodreads Rating 4/5

How to get this book

  • Toko buku Gramedia Rp 50.000
  • Gramedia.com Rp 42.000 (belum termasuk ongkos kirim)

Love in Paris (Silvarani, 2016)

Identitas Buku

Judul: Love in Paris
Penulis: Silvarani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiksi, young adult, romance, religi
Bahasa: Indonesia
Terbit: 13 April 2016
Tebal: 224 halaman
Cover: Soft cover
Ukuran: 13.5 cm x 20 cm
ISBN-13: 978-602-032-661-0

Sinopsis Official

Paris… tragis atau romantis?

Ternyata, Paris tak hanya romantis, tetapi juga tragis. Lihat saja sejarah revolusi. Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette, dihukum mati di kota ini. Bersamamu, kira-kira Paris akan menampakkan wajah yang mana? Tragis… atau romantis?

Sheila begitu bahagia bisa ke Paris untuk melanjutkan kuliah di Pantheon-Sorbonne. Yang memberatinya hanya satu: Sony pacarnya tak mau menjalani LDR Jakarta–Paris. Berangkat dengan hati patah, Sheila mencoba meyakini bahwa Paris akan menghadiahkan hidup dan cinta baru.

Lalu muncullah Leon, sahabat kakaknya semasa SD. Laki-laki blasteran Prancis-Indonesia itu berprofesi sebagai fotografer. Bayangan Leon yang dulu mengimami Sheila saat shalat seketika pupus, berganti sosok “asing” yang menjalani gaya hidup khas kota besar. Walau agak kecewa, tak bisa dimungkiri Leon berhasil membuat Sheila terpesona. Pun sebaliknya. Pencarian iman mendekatkan mereka berdua, tapi juga mengombang-ambing hati keduanya.

Di bawah langit Paris, haruskah Sheila kehilangan cinta lagi? Mampukah gadis ini bersabar menunjukkan jalan lurusNya kepada Leon?

Resensi

Kerepotan saya sejak tanggal 16 Februari hingga 28 Maret 2016 di tantangan ulang tahun ke-42 Gramedia Pustaka Utama, akhirnya “terbayar” dengan hadiah dua buah buku dari Gramedia. Buku ini adalah salah satunya. Betul, Saudara-saudara, saya mendapatkan buku ini ketika banyak orang tengah membicarakannya, dan beberapa rekan blogger tengah menyodorkan buku ini untuk dijadikan hadiah giveaway. Salah satu dari serial buku Love Around The World yang sedang heboh itu. Hal-hal inilah yang bikin saya semangat untuk segera menyelesaikan buku yang covernya unik ini.

Jadi, ceritanya buku ini membahas hubungan Sheila, seorang remaja berkecukupan berusia 18 tahun yang baru saja mulai melanjutkan pendidikan di Paris; dengan sahabat kakaknya yaitu Leon, pemuda yang telah tinggal lama di Prancis dan bekerja sebagai fotografer. Keduanya dipertemukan karena situasi dan kondisi yang agak berbau kebetulan. Di sinilah, dijelaskan bagaimana Sheila dan Leon mulai menjalin hubungan, dari masalah persahabatan hingga berlanjut ke masalah keyakinan. Bagaimanakah akhir kisah mereka? Akankah Sheila yang bercita-cita menikah muda berhasil meraih keinginannya? Dan apakah Leon yang selama ini tercatat sebagai umat Islam namun tak pernah menjalankan kewajiban beragamanya, dapat kembali ke jalan yang benar?

Setelah tahu bahwa tema utama dari buku ini adalah soal romantisme hubungan yang dibungkus nuansa religi, saya sempat khawatir. Akankah nasib buku ini di tangan saya bakal seperti Ayat-Ayat Cinta? (catatan: Saya tidak menyelesaikan buku yang satu itu dan saya memberinya rating 1 di Goodreads)

Eits sebentar, jangan buru-buru memvonis saya anti dengan cerita berbau religi yah. Menurut saya, selama suatu cerita tidak terlalu mengedepankan propaganda di balik kemasan religinya, topik religi tidak akan pernah jadi masalah untuk menikmati cerita. Meskipun barangkali posisi saya adalah sebagai pihak luar. Jadi, masalah genre tak jadi soal buat saya. Dan yang juga saya perlu garis bawahi, ternyata tema islaminya sama sekali tidak basi dan terlalu mendayu seperti Ayat-Ayat Cinta. Menurut saya, cara penulis mengangkat isu pemahaman terhadap agama Islam telah disesuaikan dengan situasi modern, dan dengan porsi yang pas sesuai perkembangan zaman. Cara pandang pihak luar terhadap Islam pun diangkat di sini, dengan proporsi yang tepat dan cara menanggapi yang lazim ditemui di kenyataan pula.

Soal pengambilan tema, bisa dibilang bahwa cara penulis membuka buku ini cukup menarik. Meskipun buat saya agak cheesy, tetapi tetap saja pengambilan sudut awal sudah cukup mendatangkan rasa penasaran. Namun, selanjutnya, yang lebih mengundang rasa ingin tahu adalah soal hubungan para tokohnya.

Bagaimana soal deskripsi Paris yang diutarakan dalam novel ini, dan yang banyak disebut-sebut para penikmat novel young adult itu? Nah, saya sudah membuktikan bahwa deskripsi Paris yang dijabarkan di sini lumayan komprehensif. Tapi, jangan terlalu berharap bahwa kalian bisa berpegang pada buku ini untuk dijadikan referensi buat jalan-jalan ke Paris. Bagaimanapun buku ini adalah novel dan bukan travel guide 🙂 Dan saya harus mengakui, bahwa deskripsi Paris yang disampaikan cukup menambah bumbu di bab-bab awal hingga pertengahan buku ini. Tentunya bumbu yang sedap, ya.

Juga soal frasa-frasa dalam bahasa Prancis. Lumayan untuk belajar bahasa Prancis dasar, meskipun juga, lagi-lagi, kalian tidak bisa hanya berpegang pada buku ini untuk mendapatkan basis bahasa Prancis yang baik. Kembali, lebih sekadar menambah pengetahuan dan wawasan soal Prancis saja.

Satu-satunya masalah buat saya dari novel ini – dan sayangnya, masalah yang terbesar pula – adalah perihal cara buku ini ditutup.

Mengapa? Menurut saya, seteguh-teguhnya orang berprinsip (karena seperti itulah tokoh Sheila digambarkan), bab sebelas buku ini adalah cara eksekusi yang teramat janggal, apalagi kalau kita baru saja selesai membaca bab sepuluh. Janggalnya bahkan di luar dugaan, di luar fantasi science fiction teraneh yang pernah saya baca, dan… Intinya ending ini betul-betul membuat saya melongo. Dan saya sangat kecewa karenanya. Mengapa bab-bab awal dan pertengahan yang sudah dijalin dengan baik ini seolah diakhiri dengan dicekik begitu? Apakah tidak bisa transisinya dibuat lebih halus?

Sungguh disayangkan… Atau mungkin, saya memang tidak “ditakdirkan berjodoh” dengan genre romance. Jika benar, berarti masalah ada di selera saya dan bukan di buku ini.

Akhir kata, mungkin saya sulit menyatakan akan merekomendasikan buku ini atau tidak untuk kalian. Jika kalian amat mementingkan akhir cerita dalam memilih suatu novel, kalian bisa saja akan kecewa seperti saya. Tetapi jika kalian ingin menikmati suasana Paris dan membayangkannya selagi membaca, tentu buku ini bisa terasa lebih nikmat.

Review

  • Saya membacanya dalam bentuk; Fisik
  • Love in Paris on Goodreads
  • My Personal Goodreads Rating 1/5

1-star

How to get this book

  • Toko buku Gramedia Rp 55.000
  • Gramedia.com Rp 55.000 (belum termasuk ongkos kirim)
  • Scoop Rp 31.200 (digital version only)

Save